Entri Populer

24 Mei, 2016

ISLAM YANG MENYEJUKKAN


Ilustrasi
Saya agak kurang mengerti dengan kelompok Islam yang anti demokrasi dan pancasila dan “ngotot” ingin menggantinya dengan yang mereka klaim sebagai negara Islam.  Sebagai awwam saya tidak ingin berdebat soal tafsir negara Islam dalam nash-nash suci Al Quran.  Mohon maaf, saya bukanlah seorang hafidz apalagi seorang yang mahfum tafsir.

Namun ini hanyalah pikiran nyeleneh dari seorang awwam seperti saya. Apakah saat ini negara Indonesia begitu tidak Islami sehingga kita harus menjadikannya sebagai negara “Islam”. Coba perhatikan, negara ini tidak menjadikan Al Quran dan Hadist secara formal sebagai ideologi dan konstitusi ataupun sebagai dasar negara.  Akan tetapi ada banyak Undang-Undang dan regulasi lainnya mengakomodir kepentingan orang Islam. 

Sebut saja Undang-Undang pernikahan, Zakat, hukum waris, haji dan hal-hal muamalah lainnya yang semua mengakomodir kepentingan umat Islam.  Bahkan orang Islam disiapkan secara khusus oleh negara sebuah pengadilan sendiri untuk menyelesaikan sengketa-sengketa yang berkaitan dengan syariah muamalah yakni Pengadilan Agama Islam (PAI). Tak hanya itu, disediakan pula oleh negara sebuah kementerian yang seolah-olah hanya milik orang Islam yaitu Kementerian Agama (KEMENAG). 
Walaupun ikut mengurusi agama selain agama Islam tapi liat saja logonya adalah Al Qu’ran dan berapa banyak pegawainya adalah muslim dan mengasuh ribuan pondok pesantren dan madrasah. Atau periksa pula struktur organisasi kementerian itu bidang-bidang kerjanya lebih banyak adalah domain Islam.  Belum lagi istilah-istilah yang digunakan juga istilah bahasa Arab.  Toh itupun kalau kita sepakat bahwa bahasa Arab identik dengan bahasa Al Qur’an/Islam karena Rasulullah Muhammad berbangsa Arab.

Kurang Islami apa lagi negara ini, kita hendak menuntut apa lagi..?? 

Bagi saya yang terpenting bukan mendirikan negara Islam tapi seberapa nyaman negara menyediakan fasilitas dan menciptakan kondisi bagi saya umat Islam untuk secara nyaman menjalankan agama saya dan bisa bermuamalah dengan sesama muslim atau umat yang lainnya.  Bagi saya saat ini, saya telah menemukan kenyamanan untuk menjalankan ibadah saya dengan baik.  Lihat saja dimana-mana kita dengan mudah menemukan masjid dan mushallah.  Setiap kantor, hotel  hingga restoran dan rumah makan menyediakan fasilitas untuk kita menjalankan shalat lima waktu.  Lantas belum optimalkah situasi ini bagi kita sebagai ummat Islam menjalankan Ibadah kita..??

Walaupun tidak dapat dipungkiri, di beberapa daerah di Indonesia pernah atau sedang terjadi konflik SARA.  Tapi bagi saya itu lebih pada permukaannya saja, penyebab utamanya lebih pada soal-soal ekonomi politik, kemiskinan, pemerataan pembangunan dan semacamnya.  Jika itu problem utamanya maka solusinya dibutuhkan kehadiran negara disana menciptakan kesejahteraan dan mengokohkan keadlian.  Dan untuk melakukan itu tak perlu negara yang berlabel Islam.
Bagi saya, makna Rahmatan Lil Alamin itu laksana air.  Air, bagaimanapun bentuk bejananya ia akan tetap menjadi air.  Ia akan menyelusup masuk disetiap ruang dan sudut bejana lalu memberi kedamaian dan kesejukan disana.  Begitulah Islam. Biarlah Islam melalui tangan-tangan kita muslim berinteraksi dengan indah dengan berbagai kultur di nusantara, menyelusup masuk dalam setiap sendi-sendi kehidupan kita. Perlahan mereka beradaptasi dengan prinsip akidah Islam lalu akhirnya Islam memberi kesejukan rahmatan lil alamin.

Sebagaimana pula air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Jika kita ummat muslim ingin mengalirkan Islam maka tinggikanlah akhlak dan haluskanlah budi pekerti keummatan kita.  Dengan cara ini, saya yakin Islam tak hanya menjadi rahmatan lil alamin namun menjadi keteladan bagi umat yang lain. Negara tak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk me-Revolusi Mental rakyat, ummat muslim dengan sendirinya merevolusi mentalnya lalu mereplikasinya.

Airpun bisa memanas bahkan mendidih jika suhunya dinaikkan.  Jika suhu air naik maka ia akan kehilangan kesejukan.  Demikian pula Islam akan kehilangan kesejukan jika kita umat muslim mendahulukan amarah dan kekerasan dalam berdakwah.  Air pula dapat membeku kaku tak dinamis jika suhunya dibawah titik nol.  Islam pun demikian kan terasa sangat kaku, jika kita umat muslim yang tidak berfikir dinamis dan inklusif serta membangun semangat etos bekerja keras dan berkarya.

Mohon maaf, ini cara saya orang awwam ber-Islam, saya tak akan memaksakan ini ke diri anda.

Wallahu A’lam Bissawab.

Bogor,  24 Mei 2016
Pukul  00.39 WIB

0 komentar:

Posting Komentar