*Tulisan ini pernah dimuat dalam opini Harian Radar Buton edisi Kamis, 25 Oktober 2012
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
29 Oktober, 2012
Menemukan Sang Pemimpin
*Tulisan ini pernah dimuat dalam opini Harian Radar Buton edisi Kamis, 25 Oktober 2012
28 Oktober, 2012
Perempuan Subuh
Perempuan Subuh
LEKAS SEMBUH, ANAKKU..
| Pulasnya Tidur Amirah |
![]() |
| Asyik bermain bersama Ibu |
| Malu ach baru bangun.. |
| lagi senang-senangnya |
| Foto Bareng Ayah |
| Pose ala model bersama Ibu |
20 Oktober, 2010
Pelayanan Air Yang Buruk

KEMARIN pagi sekitar pukul 9:30 pagi dengar mengendarai sepeda motor saya bergegas ke kantor Perusaahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kab. Buton. Gas motor kutancap sedikit terburu-buru karena masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan dan masih harus ngantri lagi ke loket pembayaran Listrik dan telephone di bank BNI cab. Baubau. Apalagi katanya batas pembayaran tagihan tiap bulan hingga tanggal 20. Tentu saja ada bayaran tambahan bila telat bayar. Jarak rumah sy ke kantor PDAM Kab. Buton kurang lebih 1 km. Warga Baubau lebih akrab menyebut daerah itu sebagai kilo satu. Mungkin saja karena jaraknya kurang lebih satu kilometer dari titik nol depan pelabuhan Murhum Baubau.
Sesampai di depan pintu gerbang kantor PDAM Kab. Buton,loket pembayaran sudah terlihat. Tepat didepannya saya memarkir motor karena loket tersebut memang berhadapan dengan tempat parkir. Didepan loket tampak beberapa orang laki-laki dan Ibu-Ibu dengan wajah menggerutu dan mulut komat-kamit setengah berbisik sembari memandangi lembaran tagihan airnya. Sementara seorang laki-laki agak berdebat dengan petugas loket menyangkut pembayaran tagihan air bulan ini (September). Rupa-rupanya orang-orang tersebut sedang mengeluh soal naiknya tarif pembayaran air.
Sehari sebelumnya memang saya telah mendengar cerita dari seorang kerabat bahwa ia abis “ngamuk” dikantor PDAM Kab. Buton.
“..bagaimana mo tidak marah-marah biasanya saya membayar tagihan air tak smpai 100rb tiba-tiba tagihan air saya bulan ini 260an rb. Coba hitung Min,berapa persen itu naiknya..” tegasnya meluap-luap.
Saya lalu memasukkan lembaran tagihan air bulan sebelumnya ke loket sambil bertanya pada Ibu yang bertugas diloket tersebut.
“Ada kenaikan tarif pembayaran air ya..? tanyaku
“Iya..,lihat saja pengumumannya tertempel di kaca depan..,” spontan Si Ibu petugas
Sambil menunggu panggilan,saya lalu mencari tahu pengumuman tersebut. Disitu disebutkan alasan kenaikan tarif pembayaran air karena sejak tahun 2004 tagihan tidak pernah dinaikkan, makanya pesti ada penyesuaian harga.
Sebagai orang awam menurutku alasannya kurang tepat. Harusnya yang menjadi alasannya adalah sebagai upaya peningkatan pelayanan dan kualitas air bagi pelanggan. Ditambah lagi tak dijelaskan berapa persen kenaikan tarif tersebut biar pelanggan dapat memprediksi berapa tagihan tiap bulannya kedepan.
Tidak lama kemudian nama yang tertera pada lembar rekening saya dipanggil. Saya menghampiri loket tersebut. Kaget sambil rasa agak marah melihat lembar rekening,pembayaran tagihan air untuk bulan ini sebesar Rp. 273.150.
“..kenapa mahal begini Bu. Saya tidak merasa memakai air sebanyak ini karena air PDAM Kab. Buton jarang mengalir. Kalaupun mengalir kualitasnya buruk karena bercampur lumpur..”
Si Ibu hanya diam tak berkomentar. Rupanya Ia pun tak tahu menahu akan hal itu. Ia hanya menjalankan tugas dan kebijakan dari atas.
Aakh saya sangat jengkel setelah mengetahui tagihan air saya. Betapa tidak pembayaran Bulan sebelumnya Rp120.850 dan biasanya memang tak lebih dari 130ribuan. Tapi kali ini naik lebih dari 150ribu rupiah (Rp. 273.150).
Sebenarnya tidak menjadi masalah seberapa tinggipun pembayaran tagihan air PDAM Kab. Buton asalkan setimpal dengan pelayanan dan mutu air yang didapatkan dirumah-rumah pelanggan. Tetapi faktanya kualitas air sangat buruk. Kondisi air yang sampai ke bak penampungan pelanggan keruh bercampur lumpur. Apalagi pada waktu hujan. Air tersebut tak bisa langsung digunakan untuk aktivitas sehari-hari di rumah. Harus dibiarkan selama sehari agar lumpurnya mengendap. Kamar mandi dan bak penampungan dirumah saya semakin lebih sering dibersihkan dan dikuras karena lumpur yang terikut oleh air. Butiran lumpur tadi juga lengket ke pakaian saat mencuci. Apalagi pakaian tersebut berwarna putih. Kurang lebih 20 tahun rumah saya berlangganan air ke PDAM Kab. Buton tetapi pelayanan dan kualitas air tidak bertambah baik. Justru sebaliknya bertambah buruk. Ini ironi pelayanan PDAM Kab. Buton.

Sebagai orang awam kadang-kadang saya bertanya-tanya dalam hati. Kok PDAM Kab. Buton tak pernah memperbaiki pelayanannnya. Mungkin saja karena pelanggannya kebanyakan adalah warga Kota Baubau sehingga ia acuh tak acuh. Sebab faktanya sangat banyak rumah-rumah warga Kota Baubau kebutuhan air bersihnya masih dilayani oleh PDAM Kab. Buton ketimbang PDAM Kota Baubau sendiri. Ini konsekuensi dari pemekaran. Pemerintah Kabupaten Buton sebagai daerah induk masih merasa memiliki asset PDAM tersebut termasuk para pelanggan didalamnya. Akibatnya Kota Baubau sebagai daerah hasil pemekaran harus mengadakan sendiri Perusahaan daerah Air Minum.
Sebagai orang awam pula terkadang saya bertanya-tanya, memang boleh ya satu perusahaan daerah “menggarap” ke daerah lain? Katakanlah PDAM Kab. Buton sebagai penyedia layanan air di Kota Baubau. Hal inipun terjadi karena konsekuensi politik (pemekaran)?. Terkadangpun saya berpikiran agak “nakal” bahwa gejolak sosial Kota Baubau gampang saja dibuat rusuh karena hajat hidup warga kota yakni air masih dikuasai oleh pihak luar.
Pertanyaan “bodoh” lain yang sempat muncul dalam benak saya, PDAM Kab. Buton yang notabene berorientasi profit dan dibawah kendali Pemerintah Kab. Buton kok menaikkan tarif pembayaran pelayanan air satu tahun menjelang PILKADA di Kabupaten Buton ya..??
Aach ini hanya pikiran awam saya yang termantik oleh pelayanan buruk PDAM Kab. Buton..,
Baubau,20 Oktober 2010
pukul 12.00
saat perasaan masih kesal.,
02 September, 2010
Perjalanan Ke Kolagana

Matanya awas tajam menatap hamparan samudra. Kulitnya yang legam menandakan betapa akrabnya Ia dengan dunianya,laut. Baginya hamparan samudra biru adalah bentangan sejuta harapan. Sesekali ia duduk diatas ujung sampannya sembari emlepas pandanganya ke arah samudra. Mungkin saja dalam benaknya ia sedang membuat perhitungan dengan sang samudra. Lalu keceriaan kembali merajainya saat teman-temannya menyapa untuk kembali bermain disela-sela membantu kesibukan orang tuanya yang membudidayakan rumput laut. Sekelompok anak nelayan Kolagana usia 4-7 tahun telah terbiasa dengan hempasan air laut dan cadasnya batu karang.
Beberapa waktu yang lalu bersama keluarga saya pergi melihat kebun almarhum kakek saya di Kolagana. Letak kebun itu tepat dekat laut,luasnya beberapa hektar namun agak landai. Sayang kebun itu hampir tak terurus sama sekali. Saya membayangkan di kebun itu dibangun villa dan pemandaangannya langsung menjorok ke laut. Hanya saja inventasinya pasti sangat besar.
Tak jauh dari situ, ada sebuah sumur tepat dibibir pantai. Anehnya menurut penduduk setempat yang lagi hendak mencuci dan mengambil air minum,air sumur tersebut rasanya tawar dan langsung bisa diminum tanpa dimasak. Sumur itu menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan air minum warga Kolagana. Sumur itu menjadi oase bagi warga ditengah tandus dan teriknya alam Kolagana. Setiap hari warga datang berbondong-bondong lalu mencari posisi strategis disekitar sumur untuk melakukan sebagian ritual rumah tangga. Apa lagi kalau bukan mandi, mencuci dan mengangkut air untuk dibawa pulang kerumah. Anak-anak merekapun tak ketinggalan. Setelah puas bermain sampan di laut,bergegas ke sumur untuk menyepul badan mengusir rasa asin yang melekat.
Paman saya begitu akrabnya menyapa setiap warga yang ia temui. Sesekali mereka bercanda dan saling mengejek menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti. Menurut cerita paman saya bahwa penduduk Kolagana ini semua adalah orang Baruta. Sejak dulu orang Baruta bermigrasi ke Kolagana dan berkebun. Rupanya tepat didepan Kolagana adalah Baruta,hanya berjarak kurang lebih 500 meter dipisahkan oleh selat Buton. Selat inilah yang setiap harinya dilalui oleh kapal cepat sagori Ekspress dan Super Jet menuju raha dan Kendari. Bahkan kapal PELNI yang berukuran kecil melalui selat itu ketika hendak merapat ke Pelaabuhan Murhum Bau-Bau. Menurut informasi,kendati sempit selat di depan Baruta itu sangat dalam. Menurut cerita Mamaku,Paman saya itu waktu kecil biasa berenang dari Baruta ke Kolagana untuk pergi sekolah.
Dari bahasa yang mereka gunakan sehari-hari, nampaknya termasuk dalam rumpun bahasa Pancana. Rumpun bahasa ini tersebar hampir disetiap pinggiran Pulau Buton dan hampir seluruh bagian Pulau Muna dengan beragam dialek dan beberapa kosa kata dengan fonologi yang agak berbeda. Mereka terkenal sebagai pelaut yang ulung untuk menangkap hasil laut ataupun berdagang. Maknya saat ini banyak dari mereka menetap dan berdagang di daerah timur nusaantara sana. Dalam sebuah catatan yang pernah saya baca bahwa rumpun Pancana ini jauh lebih dulu datang menempati pulau Buton sebelum datangnya Mia Patamiana dari Johor itu.
Nampaknya cukup beralasan ketika antropolog Pelras dari hasil penelitiannya memasukkan bangsa Buton sebagai salah satu dari lima bangsa maritim di Nusantara. Empat bangsa yang lain adalah Bajo, Makassar, Mandar dan Madura.
*************
Anak-anak nelayan Kolagana itu masih terus bermain dengan senyum lugunya. Mereka hanya mengenal dunia laut. Mereka belum tau bahwa disekitar mereka tangan-tangan tak kelihatan (invisible hand) telah lama bergerak mengeksploitasi sumber daya alam. Tak jarang tangan-tangan tak kelihatan itu berselingkuh dengan kekuasaan saling bertanam saham dan berbagi laba. Mereka (mungkin saja) belum sadar bahwa zaman berlari dengan kencangnya digerakkan oleh motor kemodernan. Geliat zaman begitu cepat, dalam hitungan detik dunia terus berubah.
Apakah yang akan terjadi pada anak-anak nelayan Kolagana itu nantinya? Tak mungkin ke-edan-an dunia dijawab dengan ke-lugu-an. Entahlah..,mereka akan tenang-tenang saja selama sumur mereka tak diganggu, orang tua mereka masih bisa membudidayakan agar-agar dan mereka masih bisa bermain sampan di laut Kolagana yang Biru.
Bau-Bau, 2 September 2010
Jam 13:20 WITA.














