Entri Populer

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

24 Mei, 2015

MENGHADIRKAN MAKNA


Ilustrasi

Oh simple thing, where have you gone?
I’m getting old and I need someone to rely on
So tell me when you’re gonna let me in
I’m getting tired and I need somewhere to begin

~penggalan lirik lagu Somewhere Only We Knew yang dilantunkan oleh Keane~

Semalam seorang kawan dekat mengabarkan bahwa ia sedang dimintai tolong oleh seorang kawan lamanya untuk memberikan ide terkait nama putri pertama mereka yang sudah seminggu lahir.  Kawan dekat itu nampaknya sedikit kesususahan memberikan ide yang diminta. Sudah tiga ide nama disodorkan namun semua ditolak oleh yang empunya putri.  Tapi kawan dekat itu maklum, bagaimana perasaan sepasang orang tua muda saat menerima kehadiran anak pertama. Sekian waktu kebahagian itu dinanti, segala doa dan harapan ingin dicurahkan Sang orang tua baru kepada anaknya, termasuk pilihan nama terbaik tentunya.  Berbagai ide susul-menyusul akhirnya mantap pada satu nama, nama yang terbaik tentunya.

Di belahan bumi lain, pagi ini seorang sahabat saya yang lain tengah melangsungkan prosesi ijab kabul.  Saya cukup memahami bagaimana perasaan yang bergumul di dadanya pagi ini. Bahagia haru dan kecemasan bergumul jadi satu merajai dirinya.  Bahagia haru dirasakan karena inilah nikmat Tuhan, jawaban atas doa-doanya selama ini untuk dipertemukan pada perempuan pilihan terbaik.  Namun kecemasan juga mengambil tempat di batin sahabat itu, mengingat masa depan yang tidak pasti setelah ijab kabul menjadi babakan baru dalam hidupnya.  Tentu setiap langkah akan semakin dihitung dan ditakar ketimbang waktu masih sendiri.  Mungkin disinilah perlunya mengundang sanak famili dan handai taulan untuk hadir mengantar, meminta bantuan mereka memberikan doa-doa terbaik sebagai pembuka jalan dan cahaya penerang bagi mempelai.

Dan saya disini tengah larut dalam alunan musik dan lirik lagu Somewhere Only We Knew yang dilantunkan oleh Keane.  Dentuman musiknya memang luar biasa, tapi saya lebih menemukan kedalaman dari liriknya.  Sekejab diri saya membentuk jejaring makna kejadian diatas dengan penggalan-penggalan lirik Keane.
I walked across an empty land
I knew the pathway like the back of my hand
I felt the earth beneath my feet
Sat by the river and it made me complete
…..
Oh simple thing, where have you gone?
I’m getting old and I need someone to rely on
So tell me when you’re gonna let me in
I’m getting tired and I need somewhere to begin

Lirik lagu itu begitu dalam menelusuk masuk ke batinku. Ia seolah sedang menggambarkan bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan yang di dalamnya terdapat etape-etape yang harus dilewati.  Putri cantik yang diberi nama itu menjadi etape bagi dirinya untuk memulai perjalanan hidup yang mungkin juga akan sampai pada etape sahabat saya yang sedang ijab kabul.  Rasa-rasanya hidup ini bagai siklis dengan pola berulang.

Saya lalu terhenti lama pada sutu pertanyaan, lalu apa tujuan hidup ini, kemana kita akan berakhir..?

Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855)
Pertanyaan itu telah lama dipikirkan oleh para filsuf dan sampai hari ini jawabannya masih samar.  Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855) seorang filsuf beraliran eksistensialisme menawarkan satu rumusan tentang hidup.  Bagi Kierkegaard hidup adalah milik individu, setiap orang merupakan subjek atas proses hidupnya sendiri, apa yang dilakukannya sehari-hari.  Karena itu Kierkegaard menekankan pentingnya seorang bersungguh-sungguh dalam menghayati hidupnya secara benar untuk menemukan ke-auntetikan atas kehadirannya.

Entah seperti apa penghayatan hidup yang dipahami Kierkegaard, yang jelas ia memutuskan pertunangannya dengan seorang perempuan cantik bernama Regine Olsen.  Padahal kala itu semua orang tahu bahwa mereka saling mencintai.  Saat Regine Olsen ingin kembali menemui Kierkegaard di Denmark, Kierkegaard telah terkujur kaku dalam kesunyian sendiri ditengah pekat cintanya kepada Regine Olsen.  Sebagai bukti cintanya pada Kierkegaard, Regine Olsen meminta dikuburkan disamping makam Kierkegaard.

saya tidak dapat menemaninya di alam ini, mungkin saya bisa abadi bersamnya di alam sana” pikir Regine Olsen.

Saya teringat pada sebuah buku yang ditulis oleh professor filsafat Louis O. Kattsoff. Dalam bukunya itu Kattsoff sedikit mengurai tentang konsep Being (mengada) dan Becoming (proses menjadi).  Menurutnya setelah proses “mengada” (Being)  manusia adalah makhluk yang belum selesai, ia harus melalui rentetan proses menjadi untuk menyempurnakan kemanusiaannya (Becoming).  Filasafat timur pun percaya bahwa kemanusiaan adalah sekumpulan potensi yang inhern menjadi fitrah untuk teraktual selama hidupnya.

Namun sampai kapan proses Becoming itu berujung atau dengan kata lain kapan manusia bisa menyempurna..?  Rasa-rasanya saya agak kepikiran bahwa hanya kematian yang mengantarkan pada kesempurnaan itu.  Atau bisa jadi Kierkegaard sudah menemukan jawabannya hingga harus menghadapi kematian dengan cara itu.  Pantas saja bagi para sufi menganggap kematian sebagai berjumpaan dari kerinduan Sang Kekasih.  Mungkin kita harus menghayati makna Innalillahi wa Innailaihi Rajiun.

Di ujung waktuku, suara Keane masih terdengar sayup-sayup  melantunkan lagu Somewhere Only We Knew.  Diakhir lagu, liriknya kendati bernada tanya namun memberikan semangat optimistik terhadap hidup.

And if you have a minute why don’t we go
Talk about it somewhere only we know?
‘Cause this could be the end of everything,
So why don’t we go
Somewhere only we know?
Somewhere only we know?

Bagi saya hidup itu adalah soal memilih tindakan dan menghadirkan makna atas tindakan itu.  Pertanyaannya, sudahkah kita memaknai tindakan-tindakan itu..?

 

Bogor, 24 Mei 2015
Pukul 07.30 WIB




23 Mei, 2015

MEMETIK BUAH HIKMAH BUYA AHMAD SYAFII MAARIF


Buya Ahmad Syafii Maarif


Subuh ini, usai menundukkan kepala diatas sajadah saya begitu terperanjat membaca tulisan pendek Buya Ahmad Syafi’I Maarif yang dimuat dalam Republika Online 19 Mey 2015.  Perasaan saya mungkin seperti maling yang “kepergok” sedang beraksi, panik, resah dan penuh ketakutan.  Mungkin bahasa anak muda sekarang “galau”.  Saya yakin ke”galau”an Buya Ahmad jauh lebih pekat ketimbang saya sebagai konsekuensi kedalaman pengetahuan dan kejernihan hati beliau.  Ya Allah, panjangkanlah usia dan pikiran-pikiran Buya Ahmad, dan jika beliau pergi meninggalkan kami maka gantikanlah dengan 1000 Buya seperti beliau.  Bangsa ini sangat membutuhkan sosok seperti beliau Ya Allah.,Amin.

Jujur saya tak terlalu mengenal Buya Ahmad bahkan tak ada satupun buku nya yang terselip dalam lemari bukuku.  Saya mengenal beliau melalui media online dan televisi.  Keyakinan saya mengatakan Ia ingin menjadi sosok yang universal yang tak ingin ruang gerak sosialnya dibatasi oleh simbol-simbol tertentu meskipun Ia cukup kental dipandang sebagai tokoh tulen Muhammadiyah.  Saya kurang tahu apakah di Muhammadiyah ada tradisi menyapa seorang tokoh dengan sapaan Buya seperti yang dilekatkan pada Buya Ahmad. 

Judul tulisannya sangat mengagetkan buat saya, Menyembah Sejarah.  Dua istilah yang mestinya tak dipersandingkan dan ditemukan faktanya, tetapi nyatanya itu terjadi di bumi manusia.  Satu istilah yang merupakan produk “langitan” yang konsekuensi tindakannya bermuara ke “langit” dan satu lagi istilah yang merupakan produk “bumian” yang menjelaskan dinamika kemanusiaan dalam ruang dan waktu.  Saya sangat memahami Buya Ahmad sedang merasakan denyut nadi sejarah yang terus meradang khususnya sejarah perjalanan ummat muslim.  Ia nampaknya merasakan satu kegetiran hati dan fikiran yang sangat dipenghujung usianya yang senja itu.

Ilustrasi
Tulisan itu adalah kritik buat kita semua yang cenderung tersesat dalam sejarah lalu memper-Tuhan-kannya.  Ia memulai dengan bagaimana kegerahan pendeta-pendeta Kristen di dunia barat setelah Stephen Hawking, fisikawan yang difabel itu mengeluarkan pernyataan yang “menyentil” semangat teologi mereka.  Makin kesini Hawking semakin atheis dengan mengatakan “kita tak perlu membutuhkan Tuhan untuk menjelaskan semesta,  pengetahuan sudah bisa melakukan itu”. Hawking meniadakan kuasa Tuhan dengan kuasa pengetahuan.

Jika di belahan dunia barat Tuhan dan pengetahuan sedang berebut tempat dalam kehidupan manusia, maka tak begitu adanya di belahan dunia timur.  Menurut Buya Ahmad ada kegaduhan lain yang menyesakkan napas di dunia timur (arab dan negara muslim): bentrok Sunnisme dan Syi’isme atas nama Tuhan.  “Kedua golongan ini pasti akan naik pitam jika dikatakan tidak ber-Tuhan, tetapi pertumpahan (darah) antara mereka atas nama Tuhan tetap saja berlangsung, sesuatu yang nista dan sesat. Tetapi itulah fakta sejarah” tulis Buya Ahmad.

Secara tegas Buya menjelaskan bahwa Sunny, syi’ah, khawarij dan jubah-jubah yang lain hanyalah produk sejarah sebagai buah dari sengketa politik kekuasaan dikalangan elit Arab muslim dimasa awal (sepeninggal Nabi) dengan mengingkari Al Qur’an dan pesan Nabi.  Menurut saya ini pernyataan yang berani tetapi memang harus diungkapkan oleh beliau karena begitulah memang adanya.

Berangkat dari pikiran Buya Ahmad, ada dua catatan kecil yang ingin saya sampaikan.  Pertama; tanpa kita sadari belahan dunia timur juga sedang bergerak pada lintasan menuju atheis seperti yang sedang dialami oleh belahan dunia barat.  Hanya saja dengan cara dan motif yang berbeda.  Konflik pertumpahan darah dikalangan muslim atas nama Tuhan telah menggeser posisi penting Tuhan secara akidah dengan mazhab yang dibela mati-matian itu. Jika di dunia barat kuasa pengetahuan tengah mempertanyakan posisi Tuhan maka di dunia timur posisi keagungan Tuhan tengah digangu dengan politik antar mazhab (mazhab syi’ah, sunni dan sebagainya).  Darah yang tertumpah hanya menjual nama Tuhan demi kepentingan mazhab.  Atau dalam bahasa berbeda konflik Syi’ah dan sunni bukan konflik akidah tapi konflik politik dalam sejarah ummat muslim.

Kedua; tulisan Buya Ahmad bahwa konflik ini terjadi yang bermula di awal dengan mengingkari Al Qur’an dan pesan Nabi menegaskan bahwa pihak-pihak yang bertikai bisa jadi tanpa sadar justru semakin menjauhkan diri dari ajaran yang berusaha untuk diperjuangkan.  Sebab Nabipun selalu berpesan bahwa islam itu Rahmatan Lil Alamin yang mekanisme dakwahnya dengan kedamaian dan welas asih.  Mengarifi perbedaan adalah sendi yang paling penting untuk mengokohkan Rahmatan Lil Alamin itu.

Poin penting yang saya serap dari tulisan Buya tercermin secara gamblang dari judul tulisannya.  Hendaknya sebagai golongan agama paling besar dapat berdamai dengan sejarah secara baik dan mendudukkan sejarah secara proporsional tanpa mengutak-atik atau malah merongrong akidah yang sebetulnya berdiri pada pondasi yang sama yaitu kalimat tauhid.  Bagi saya, jika telah meyakini keesaan Allah SWT dan meyakini Muhammad SAW sebagai rasul terakhir maka muslimlah ia.  Selebihnya adalah cabang-cabang fiqih yang sarat dengan dinamika sosial yang diselesaikan dengan membuka pintu-pintu dialog (ijtihad).

Paling akhir, sebagaimana Buya Ahmad, tempatkanlah sejarah sesuai pada tempatnya bahwa sejarah merupakan gumpalan dan kristalisasi ruang dan waktu yang sarat pelajaran moral.  Doktrin Al Qur’an jelas dalam QS Yusuf ayat 111 “ Laqad kaana fii qashashihim ‘ibratun li ulil albaab”.  Sesungguhnya pada kisah-kisah (sejarah) mereka itu ada pelajaran moral bagi mereka yang berakal.



Bogor, 23 Mei 2015
Pukul 05.30 WIB.
 

20 Mei, 2015

SURATKU

Ilustrasi
 Aku menemukanmu berserakan diatas lantai.,
Yakinlah, aku sangat bersedih karena itu
Ku kumpulkan satu persatu kepingan tubuhmu
Lalu kurajut kembali menjadi dirimu yang utuh
Maafkan, ini semua salahku
Tapi yakinlah engkau jauh lebih utuh dalam diriku
Sampai-sampai menyempunakanku, mengisi setiap ruang kosong

Tak ada yang bisa kita percaya hari ini selain angin, iya kan..?
Sejak dulu angin selalu menyalip kerinduan kita
Menerbangkannya dimana masing-masing kita berada.,
Ia membisikkan pesan-pesanmu lewat semilirnya
Angin membuat kita jadi tak berjarak
Walaupun kita tak bersentuh
Masih percaya kan kau pada angin..?

Maafkan, aku belum bisa kembali
Walaupun sisi lainku menginginkannya
Kita masih harus mengandalkan angin
Sebab tak ada yang bisa kita percaya hari ini selain angin, iya kan..?

Ini bukan soal jarak, ini bukan soal 50 meter
Sekali lagi ini bukan soal angka
Tapi bagaimana kita memberi makna atasnya.,
Teruslah berdoa biar masing-masing kita makin kuat dan teguh
Tuhan akan menggerakkan semesta untuk semua doa kita
Percayalah..,

Aku bisa melihatmu disini walau kau terlelap disana
Aku bisa melihat semua gerak-gerikmu
Tak perlu kau mencari dirimu dalam cermin
Tatap saja aku, engkau jelas disitu
Setiap kau menatapku pasti aku tersenyum
Aku tersenyum karena jelas, engkau penuh keindahan


Bogor, 20 Mei 2015
Pukul 00.00 WIB