Entri Populer

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

20 Mei, 2015

SURATKU

Ilustrasi
 Aku menemukanmu berserakan diatas lantai.,
Yakinlah, aku sangat bersedih karena itu
Ku kumpulkan satu persatu kepingan tubuhmu
Lalu kurajut kembali menjadi dirimu yang utuh
Maafkan, ini semua salahku
Tapi yakinlah engkau jauh lebih utuh dalam diriku
Sampai-sampai menyempunakanku, mengisi setiap ruang kosong

Tak ada yang bisa kita percaya hari ini selain angin, iya kan..?
Sejak dulu angin selalu menyalip kerinduan kita
Menerbangkannya dimana masing-masing kita berada.,
Ia membisikkan pesan-pesanmu lewat semilirnya
Angin membuat kita jadi tak berjarak
Walaupun kita tak bersentuh
Masih percaya kan kau pada angin..?

Maafkan, aku belum bisa kembali
Walaupun sisi lainku menginginkannya
Kita masih harus mengandalkan angin
Sebab tak ada yang bisa kita percaya hari ini selain angin, iya kan..?

Ini bukan soal jarak, ini bukan soal 50 meter
Sekali lagi ini bukan soal angka
Tapi bagaimana kita memberi makna atasnya.,
Teruslah berdoa biar masing-masing kita makin kuat dan teguh
Tuhan akan menggerakkan semesta untuk semua doa kita
Percayalah..,

Aku bisa melihatmu disini walau kau terlelap disana
Aku bisa melihat semua gerak-gerikmu
Tak perlu kau mencari dirimu dalam cermin
Tatap saja aku, engkau jelas disitu
Setiap kau menatapku pasti aku tersenyum
Aku tersenyum karena jelas, engkau penuh keindahan


Bogor, 20 Mei 2015
Pukul 00.00 WIB

17 Mei, 2015

EKSPEDISI BELITONG I: Adventure Begins..!!

 
Malam ini tidur saya terjaga.  Saya tidak mau telat hanya karena memenuhi hasrat ingin tidur.  Tepat jam 12 malam mobil jemputan akan datang untuk mengantarkan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.  Tapi di Indonesia biasanya molor sejam kalau buat janji, eits..,bukan Indonesia tapi oknum orang Indonesia.,hehehe.

Tepat sekali dugaanku, jam 1 malam mobil jemputan baru datang.  Itupun setelah berkali-kali dihubungi via telepon.  Maklumlah, dari Bogor ke Bandara memerlukan beberapa jam untuk menempuhnya.  Saya tidak mau ketinggalan pesawat hanya karena alasan-alasan sepele. Terlebih lagi banyak peralatan visual dan drone yang harus dibawa serta.  Tentu ini memerlukan waktu lebih untuk mengurus bagasinya .  Apalagi jikalau melewati kerumitan prosedur Bandara takutnya ada saja peralatan yang harus “dilobi khusus” agar bisa lewat.  Saya tak ingin melakukannya dengan terburu-buru karena alasan terlambat.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Berkali-kali kupastikan di lembaran tiket pesawat, boarding pukul 05.55 WIB. Mobil melaju agak kencang menyusuri jalan Bogor yang “menyepi”.  Asyiknya jika sehari-hari jalan raya di Bogor seperti ini”, bisikku dalam hati.  Maklumlah bukan hanya saya, semua pendududuk Bogor selalu mengimpikan jalan raya Bogor yang lowong.  Sehari-hari, kecuali tengah malam, ratusan bahkan ribuan kenderaan berjubel di Bogor.  Entah apa yang diurus orang-orang berkendara itu seolah tak kunjung selesai.

Saya menyempatkan diri untuk melelapkan mata sejenak selama perjalanan ke Bandara. Karena esoknya pasti tak ada waktu untuk take a rest, semua harus berjalan cepat dilapangan.  Bersama 6 orang anggota tim lainnya berfikiran yang sama, terlelap walau barang sejenak di mobil.  Apalagi saya diminta untuk yang bertanggung jawab dilapangan untuk mengurusi semua kebutuhan dan akomodasi tim. “ini jadi kerjaan ekstra”, pikirku.

Menunggu pesawat sambil selfie
Hampir pukul 4 dini hari akhirnya sampai di Bandara Soekarno-Hatta.  Waktu sesubuh ini, bandara Soekarno –Hatta tetap tak lengang.  Aktivitas hilir mudik pesawat mengantar barang dan manusia ke berbagai destinasi tak pernah sepi.  Kendati check in saya segerakan masih saja membutuhkan waktu 45 menit sejak melewati metal detector dan alat sensor hingga check ini selesai.  Ini karena banyaknya antrian penumpang.  Ditambah memang bagasi yang kami bawa cukup banyak.

Pukul 05.55, sekali lagi mataku tertuju melihat angka itu di lembaran tiket.  masih ada waktu untuk mengisi perut yang keroncongan dan shalat subuh” kataku.  Seusai shalat subuh saya dan kawan-kawan memutuskan nyantai di ruang tunggu.  Namun tiba-tiba terasa kesal  setelah terdengar suara dari loud speaker

Attention please, we convey to passengers citilink destination Tanjung Pandan, flight delayed 30 minutes for technical reasons, thank you

Serentak terdengar suara “ooooh” sayup-sayup menggema di ruang tunggu.

Lewat pukul 8 pagi pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Tanjung Pandan, Belitung.  Delay pesawat 30 menit akhirnya tidak jadi diganti dengan delay 1 jam.  Hadeuuuhh… Padahal waktu tempuh penerbangan Jakarta-Belitung tak memakan waktu sejam.  Lama menunggu dengan mata lelah sakitnya tuh disini #sambil megang dada, kepala, pundak, lutut, kaki..,ha..ha..ha..,lebay.

Bandar Udara Tanjung Pandan, Belitung
Oh ya, bagi yang ingin melakukan trip ke Pulau Belitung, pesawat cukup lancar tersedia.  Kita dapat memilih penerbangan Garuda, Citilink dan Sriwijaya.  Setiap hari ada penerbangan dari Jakarta ke Tanjung Pandan ataupun sebaliknya.  Bahkan, bagi yang ingin lanjut ke pulau-pulau sekitar armada pesawat perintis telah siap mengantar.  Kita tinggal menyiapkan  gocek untuk itu.

Di Pulau Belitung terdiri dari dua Kabupaten yaitu Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.  Bandara Tanjung Pandan berada di Kabupaten Belitung.  Tujuan saya dan kawan-kawan adalah Desa Lenggang di Belitung Timur.  Perjalanan masih harus dilanjutkan kurang lebih 70 km ke arah terbitnya matahari.  Beruntung, ada mobil elf dengan ukuran minibus punya Pemda Belitung Timur telah siap menjemput.

Jarak antara Belitung-Belitung Timur memang kurang lebih sama jarak antara Jakarta-Bogor, tapi jangan samakan waktu tempuhnya.  Jika Jakarta-Bogor paling cepat ditempuh 1,5 jam, Belitung-Belitung Timur hanya setengahnya.  Tak ada macet dan kenderaan berjubel disini, jalannyapun mulus karena statusnya jalan negara.  Ditambah semilir angin yang belum tercemar masuk lewat jendela dan pemandangan yang masih alami.  Rasa ngantuk saya tiba-tiba hilang karena pandangan saya terlempar kesana-kemari mempelajari alam Pulau Belitung.

Belitung Timur adalah bagian dari Propinsi Bangka Belitung yang resmi berdiri  pada 25 Februari 2003 setelah lepas dari induknya Kabupaten Belitung.  Kabupaten ini masih cukup “longgar” karena hanya didiami oleh 106.463 jiwa yang menempati luas wilayah 2.506,91 km2.  Artinya rata-rata setengah hektar wilayah Belitung Timur hanya didiami seorang penduduk Belitung Timur.  Waduuh, saya kembali membayangkan Jakarta dan Bogor yang hanya untuk mencari tempat parkir motor saja susahnya minta ampun dan harus bayar.

Orang Belitung ramah-ramah.  Jika ingin bertanya tak perlu ragu, tak ada aksi tipu-tipu disini.  Mereka akan melempar senyum ramah sebelum menjawab dengan logat melayu yang sangat kental.  Saya selalu singgah bertanya walau tidak terlalu perlu hanya ingin mendengar logat melayu itu.  Terasa mendayu-dayu ditelinga, he..he..he.  Ada empat etnis besar di Belitung yang itu Melayu sekitar 60-70 persen, sisanya adalah Tionghoa, Bugis dan Jawa.

Perbaikan jalan poros Belitung-Belitung Timur
Palau Belitung sedang berbenah diri, sepanjang jalan, banyak jalan raya tengah diperbaiki dan diperlebar.  Padahal jalannya boleh dikata masih mulus.  Mungkin karena dikabarkan dalam waktu dekat Jokowi akan blusukan di kampung halaman temannya Ahok ini dan akan melewati jalan ini.  kalau saya jadi presiden jika ingin blusukan ke daerah maka saya akan mendahulukan daerah yang jalannya rusak biar Pemdanya segera memperbaiki jalannya, ha..ha..ha..” candaku dalam hati.

Sepanjang perjalanan cukup mudah saya menemukan kelapa sawit yang berjejer rapi seperti tentara. Sesekali muncul barisan pohon Sengon yang tak kalah rapinya.  Pasukan pohon Lada tak mau kalah, dengan bantuan sebatang kayu setinggi 2 meter yang terjejer rapi, ia meliuk-liuk disitu sehingga lebih mirip kumpulan tentara gendut yang sedang berbaris. Rasanya perjalanan ini seperti parade tentara Kepala Sawit, tentara Sengon dan lada yang berlomba menjadi barisan paling rapi dan tertib, ha.,ha.,ha..  Cukup sering mobil yang saya tumpangi melewati jembatan kecil karena banyak rawa yang numpang lewat melintas jalan raya.  Nampaknya tanah disekitar sini kurang cocok untuk sayuran, terlebih lagi iklimnya cukup panas.

Perkebunan kelapa sawit di Belitung yang mayoritas dimiliki pengusaha Malaysia
Kita sudah masuk wilayah Manggar” kata Bapak yang menjemput kami sontak memecah lamunanku menikmati perjalanan.  Manggar adalah ibukota Kabupaten Belitung Timur, pusat pemerintahan ada disini.  Waktu menunjukkan kurang lebih jam 9 pagi. Saya bersama kawan-kawan diajak mampir ke kantor Dinas Perhubungan.  Rupanya nasi bungkus telah menanti sebagai sarapan.  Woow..,perut ini rasanya tiba-tiba minta untuk diisi.

Kedatangan kami rupanya telah lama ditunggu oleh Bupati Belitung Timur. Bupati Belitung Timur sekarang dijabat oleh adiknya Ahok, Basuri Tjahaja Purnama yang akrab disapa Hakka Yuyu.  Saya menyebutnya Bupati Alang-Alang Sari karena cukup sering nongol di TV sebagai bintang iklan obat herbal Alang-Alang Sari.  Gayanya tak kalah “nyentrik” dengan kakaknya, Ahok.  Bahasanya pun cukup mudah “nyeletuk” melontarkan bahasa yang seolah keluar spontan.  Ia selalu bergerak aktif.  Jika dari kantornya menuju ruangan lain ia selalu berlari.  Saya mulai paham melihat kelakuannya setelah membaca banner yang terpajang di depan kantornya bertuliskan: “Waktu itu laksana pedang, jika kau tak memanfaatkannya maka ia yang akan menebasmu”.,wow..,

Foto bareng Bupati Belitung Timur
Tak lama kami diskusi dengan Hakka Yuyu, karena ia harus menghadiri kegiatan yang lain.  Namun ia memberi apresiasi yang sangat baik kehadiran kami dan kegiatan yang akan kami lakukan di Belitung Timur.  Ia sempat berujar, “saya ingin menjadikan Manggar ini sebagai Smart Village dimana semua orang yang datang dapat mengakses internet di setiap sudut Manggar sehingga ia dengan mudah meng upload ataupun men download informasi”. 

Nampaknya Bupati ini menyadari betul bahwa menguasai informasi adalah hal yang penting bagi pembangunan daerah dan ia hendak mengkondisikan setiap pengunjung menjadi juru kampanye dan penyaksi Belitung Timur kepada dunia.

Bukti dari nyentriknya itu ia menawarkan foto bareng diruanganya. Tadinya saya pikir foto biasa, ternyata ia menarik tangan saya menuju kursinya dan duduk dikursi kerjanya itu.  Semantara Ia sendiri berpose disampingku dengan gaya 3 jari yang unik untuk menunjukkan batu akik khas Belitung Timur yang melingkar dijarinya. Saya bahagia sambil terheran-heran sembari mengimbangi lincahnya adik Ahok ini. Setengah berbisik ia berkata:

“biar anda tau juga gimana rasanya duduk di kursi bupati.  Siapa tau nanti jadi bupati juga. Lagi pula bukan karena ini Anda menggantikan saya sebagai Bupati.  Di SK jelas nama saya yang jadi Bupati, ha..ha..ha..” semua ikut meledak tertawa.

Desa Lenggang masih lumayan jauh dari Manggar kurang lebih 18 km.  Tapi saya nyantai aja, “tak ada macet disini” kataku dalam hati.  Kami lalu mencari makan siang lalu menuju Desa Lenggang.  Surprise luar biasa setelah mengetahui tenyata selama di Desa Lenggang saya dan kawan-kawan sampai 5 hari kedepan nginap di rumah Ahok.  Tak hanya itu di desa inilah tempat Laskar Pelangi tinggal dan filmnya yang terkenal itu digarap.  Tak jauh dari rumah Ahok, rumah Andrea Hirata yang masih ia tinggali hinga sekarang lengkap dengan museun Kata Andrea Hirata.

“Fabiayi Ala Irabbikuma Tukadziban”.,nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustai.  Hanya kalimat ini yang sanggup mewakili kebahagiaan ini.  Adventure begins, ha..ha..ha..!!!


11 Mei 2015
Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Belitung Timur

SEPENGGAL KALIMAT UNTUK DIK FIQ

Ilustrasi



Babakan Raya III, No. 40 adalah rumah kontrakan tempat kita memutuskan mendamparkan segala perbekalan kita selama di Bogor. Kita yang terdiri atas saya, Fitrah, Janjang dan Dik Fiq sendiri, bersepakat menyebut Babakan Raya III, No. 40 itu dengan Wisma Celebes. Nama itupun atas usulmu, biar punya ciri khas sebagai orang Sulawesi, alasanmu.  Saya hanya mengangguk saja sebagai tanda setuju atas usulmu. Itu 3 tahun yang lalu, 2012.

Kini Wisma Celebes mulai tampak lengang. Pintu lebih sering tertutup rapat ketimbang membiarkan cahaya dan angin pagi masuk bertandang, seperti yang sering kau lakukan setiap pagi. Bukan berarti tak berpenghuni, ada saya di dalamnya dan juga Janjang.  Kami sedang belajar membiasakan diri menerima kesunyian menjadi teman baru kami.  Sudah seminggu kami belajar menerima sunyi sejak kau memutuskan pulang kampung.
 
Dik Fiq bersama para "fans"
Sebetulnya bukan Dik Fiq yang pertama pertama kali hengkang dari Wisma Celebes.  Fitrah memilih beranjak dari sini setelah hatinya terenggut oleh gadis minang itu.  Fitrah Berhasil dipersuami gadis minang itu sejak tahun lalu.  Oh ya Fitrah, saya belum sempat mengucapkan selamat menempuh hidup baru.  Selamat yah Fitrah dan Fiona telah berhasil menaklukkan ego dan memutuskan untuk melebur menjadi satu.  Semoga diberi bahtera rumah tangga yang berkah yang dihiasi Qurrota a’yun (cahaya mata penyejuk jiwa:anak) yang takwa.  Amin..,

Tapi kau, Dik Fiq berhasil menutupi rasa kehilangan atas Fitrah.  Mungkin karena kau adalah yang paling bungsu disini.  Di setiap rumah kayaknya bungsu selalu menghadirkan keceriaan dalam rumah itu.  Mungkin karena bungsu selalu membawa nuansa ingin bermain dan disayangi. 

Saya dan Janjang sedang berupaya keras disini menghadirkan banyak orang untuk mau berkunjung di Wisma Celebes agar kembali ramai.  Semasa masih ada kau disini, mereka cukup rutin berkunjung.  Kau menjadi motivasi yang kuat bagi mereka untuk kesini. Dan semalam Dik Fiq, kami gagal lagi menghadirkan mereka, padahal sudah ada iming-iming gorengan, snack dan aneka minuman, ha..ha..ha.

Janjang, Dik Fiq dan saya pada foto bareng terakhir
 Rasanya tiga tahun kebersamaan terlewat begitu cepat.  Tapi tiga tahun sudah cukup membuat hati merasa kehilangan saat perpisahan tiba.  Mengapa tidak setelah tiga tahun serumah, bahkan seranjang (eitss.,jangan negative thinking ya..,) tentu akan membawa kesan berbeda jika tak serumah lagi.  Yang tersisa tinggal kenangan yang terpasung di setiap sudut-sudut rumah.  Salah satunya hasil perbuatanmu yang masih terpampang di dinding yang sampai hari ini masih tidak saya mengerti apa maksudnya. Yang jelas banyak tulisan kriting-kriting distu.,he..he..he.


Nampaknya perpisahan menjadi guru terbaik untuk mengajarkan betapa berharganya pertemuan dan kebersamaan.

Hari ini kau berulang tahun Dik Fiq tapi tak kau rayakan lagi bersama kami.  Selamat ulang tahun Dik Fiq, tiga tahun terakhir sungguh luar biasa.  Terima kasih atas kebersamaan yang luar biasa itu.

Wisma Celebes Yang Sunyi,
17 Mei 2015
Pukul 09.00 WIB


04 Mei, 2015

“SERING-SERINGLAH MEMBACA NOVEL..”

Ilustrasi


“Min, sering-seringlah membaca novel..”, demikian kata seorang sahabat kepada saya beberapa minggu lalu.  Hari itu ia mengatakan kalimat itu kepada saya beberapa kali. Saya kurang paham mengapa sahabat itu mengulangnya berkali-kali.  Saya hanya menangkap ada hal yang serius dari situ.

Beberapa hari ini kalimat itu cukup menggangguku.  Ia menyedot sebagian daya pikirku sembari mengerutkan dahi untuk memecahkan maksud kata-katanya.  Saya juga enggan untuk menanyakan kembali maksud kata-katanya meskipun sebenarnya saya membutuhkan penjelasan dari kata-kata itu.

saya akan mulai membiasakan diri membaca novel, mungkin jawabannya akan saya temukan disitu  bisikku dalam hati.

Selang beberapa hari, saya menemukan tumpukan buku diatas meja kerjanya. “buku-buku yang saya tumpuk diatas meja artinya itu buku-buku yang belum saya baca.  Yang sudah saya baca saya susun disitu” katanya sambil mengarahkan pandangannya pada sebuah etalase yang banyak terdapat buku diatasnya.

Saya melihat ada sebuah novel atau entah apa namanya yang jelas karya sastra yang terselip diantara buku-buku yang tersusun diatas meja kerjanya itu.

saya pinjam yang ini” kataku dengan sedikit mendesak. “Tapi itu belum saya baca” Ia menyahut dengan bahasa tubuh yang tak mengizinkan. “besok saya kembalikan” jawabku dengan enteng sambil memasukkannya dalam tas lalu pamit pulang sambil menyembunyikan tawaku.,ha..ha..ha

Setiba dirumah, saya mulai membacanya untuk menjawab penasaran ada apa dengan novel..?. Halaman demi halaman saya terus membacanya tapi belum ada jawaban dari setiap halamannya.  Saya terus membacanya, terus dan terus.  Ada keanehan yang mulai terasa. Tak ada keinginan lagi untuk menemukan jawaban dari kata-kata sahabat itu.

Tapi saya terus saja membaca setiap halaman novel yang saya pinjam dengan sedikit paksaan itu.  Sesekali saya tersenyum sendiri saat menuntaskan setiap halamannya.  Sesekali saya merasa pernah dan sedang melakoni cerita dalam novel itu. Tanpa sadar saya larut dan tenggelam dalam cerita novel itu. Saya sudah menganggap tak penting lagi jawaban dari kata-kata sahabat itu.

Nampaknya benar bahwa setiap kata punya kuasa.  Kuasa tak hanya dipahami sebagai sesuatu yang melekat pada sebuah institusi seperti negara. Namun kuasa berada pada setiap teks dan ruang periferi sekalipun.  Demikian diungkap oleh Michelle Foucoult. Kata-kata yang teruntai menjadi kalimat dalam setiap halaman novel ini telah berhasil mengusai pikiranku.

Nampaknya disinilah kekuatan sebuah novel dan karya sastra lainnya. Karya sastra seolah mengajak pembaca dalam dialog imaginer. Imajinasi penulis dan pembaca seolah sedang berdialog dalam “ruang “ baca dan membentuk realitasnya sendiri. Dan bisa jadi, apa yang diimajinasikan oleh pembaca jauh berbeda dari apa yang diimajinasikan oleh penulis.

Ilustrasi
 Sastra dan Perubahan Sosial 

Nampaknya beginilah modus karya sastra mendorong perubahan sosial.  Telah banyak studi yang menjelaskan bagaimana sastra membentuk logika sosial dan mengarahkan perubahan sosial.  Sastra juga tak jarang menjadi “senjata” untuk melawan tirani kekuasaan.  Tak perlu jauh-jauh, sebut saja roman Siti Nurbaya (1920) karya Marah Rusli.  Siti Nurbaya telah membangkitkan keberanian para perempuan untuk mengatakan “ini bukan zaman Siti Nurbaya” saat dikungkung dalam keluarga dan dijodohkan secara paksa.

Contoh lain Wiji Tukul dianggap “hilang” atau lebih tepatnya “dihilangkan” oleh orde baru karena puisi-puisinya ikut mengumbar perlawanan terhadap negara.  Puisi-puisi Wiji Tukul ikut berkonstribusi menumbangkan kekuasaan orde baru.  Bahkan saat demostrasi mahasiswa seolah menjadi kutipan wajib dalam setiap orasi para demonstran.  Tetralogi Laskar Pelangi gubahan Andrea Hirata ikut mendorong kunjungan pariwisata di Belitung dan menjadikan sosok Ikal sebagai indikator keberhasilan anak muda yakni mesti menempuh pendidikan di luar negeri.

Lantas, bagaimana karya sastra dapat memicu perubahan..?? saya bukanlah sastrawan ataupun kritikus sastra yang dapat menjelaskan pertanyaan itu secra logis dan sistematis.  Namun apa yang saya alami dan seperti Foucoult, Barthes, Gadamer ataupun tokoh semiotik lain katakan bahwa kata (bahasa) punya kuasa.  Bahasa dengan begitu halus menyelusup masuk dalam ruang kesadaran dan memperkokoh ataupun membentuk kesadaran baru.  Kesadaran ini yang kemudian memicu tindakan dan perubahan tingkah laku.

Karya sastra melalui kekuatan bahasa yang dimilikinya seolah telah berhasil mengokohkan dirinya menjadi salah satu pemain utama dalam panggung sejarah.  Karya sastra begitu sangat apik melontarkan kritik-kritik sosial sampai terkadang kita tak menyadari sedang dikritik lalu larut didalamnya.  Melalui kemampuan personifikasinya, sastra dengan rigid namun menyenangkan mengilustrasikan realitas sosial kita. Sampai disini, saya melihat bahwa kesadaran kita hampir sepenuhnya dibentuk oleh realitas diluar diri kita.  Terakhir saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Marx dan Engels (1859) bahwa bukanlah kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, melainkan keberadaan sosial yang menentukan kesadaran mereka.

By the way.,kembali pada maksud pernyataan sahabat saya diatas “sering-seringlah membaca novel..”.  Hmmmm..,bisa jadi sahabat saya itu menginginkan perubahan pada diri saya.  Perubahan apa itu..? saya selalu positive thingking ajalah.,perubahan menjadi lebih baik.


Bogor, 4 Mei 2015.