Entri Populer

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

01 Juli, 2010

Selamat Berpulang Sahabatku Ali..,




Asap rokok masih saja terus mengepul diatas kepala kami seolah sedang terjadi kondensasi awan dikala akan hujan. Ruangan sekejab dikuasai aroma Tar dan nikotin. Wangi shampoo dirambut gondrong kami menjadi tak jelas setelah bereaksi dengan partikel asap rokok. Dengan PeDenya kami melepas baju sehingga badan kami yang ceking yang tak pernah penuh diisi asap rokok menjadi jelas. Ruas-ruas rusuk didada begitu menonjol kentara karena lebih sering diisi oleh asap rokok ketimbang makanan yang bergizi. Betapa tidak, selera makan menjadi hilang saat Tar dan nikotin yang berbentuk asap bereaksi sempurna dalam tenggorokan dengan senyawa kafein kopi. Menurut kami itu adalah kempurnaan luar biasa. Hasilnya, lambung kami semakin akrab dengan Maag.

Saat itu sudah tengah malam. Kami belum saja tidur. Mata kami masih tetap terjaga karena mulut kami masih bersemangat komat-kamit membahas tentang pengkaderan mahasiswa. Ini kami lakukan hampir setiap malam dengan ikhlas karena pesan-pesan senior sudah terpatri. “ini demi keberlanjutan pengkaderan mahasiswa,ini demi bangsa dan peradaban yang lebih baik. Karena mahasiswa adalah pelatuk perubahan dan memiliki fungsi control sosial”

Ruangan HIMAGRO (Himpunan Mahasiswa Agronomi) menjadi saksi segala aktivitas kami. Ruangan HIMAGRO merekam dan menjadi pendengar terbaik setiap rencana gerakan dan agenda kelembagaan yang akan kami lakukan. Itu rutinitas setiap malam saat masih mahasiswa bersama sahabat saya Alisastrawansyah dan sahabat-sahabat yang lain enal, masluki, Phay, ilo,jullo,alam dan teman-teman yg lain.

*********
Pagi ini,tepatnya jam setengah sepuluh teman saya Firman yang sekarang lagi menempuh S2 d jogja mengirim kabar via Short Message Service bahwa saudara kita Alisastrawansyah baru saja meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Saya sangat terkejut dan agak sedikit trauma bercampur sedih yang mendalam. Betapa tidak, dalam selang yang tidak seberapa lama mendapat dua kabar duka dipagi hari. Beberapa waktu yang lalu dosen saya yang tercinta Pak Nurman sekarang saudara kami Alisastrawansyah giliran berpulang

Saya segera menyebarkan berita duka ini kepada teman-teman sembari mencari informasi ke teman-teman emngenai kronologis kecelakaan. Informasi yang saya dapat, Ali,begitu sapaan akrab Alisastrawansyah, meninggal begitu sampai di rumah sakit umum Masamba. Salah seorang yang berada di tempat kejadian melihat handphone Ali dan dipanggilan keluar ada tercantum nama Masluki. Masluki lalu dihubungi untuk segera ke Masamba dan kebetulan Masluki tinggal di palopo sekitar 1 jam ke Masamba.

Cerita yang saya dapatkan dari Masluki dan Amril yang menyusul kemudian ke rumah sakit, kejadiannya jam setengah 7 pagi. Ali menyetir mobil Taft bersama mertua dan iparnya hendak menuju Makassar. Kecelakaan terjadi saat mobil yang dikendarai Ali tabrakan dengan Bus besar antar kota yang melaju kencang dari arah Makassar. Tabrakan nampaknya sangat keras karena mobil yang dikendarai Ali rusak berat. Ali meninggal saat tiba d rumah sakit dan mertuanya meninggal ditempat sementra iparnya sempat kritis dirumah sakit lalu menyusul meninggal beberapa jam kemudian.

Lalu terpikir oleh saya bagaimana ketika keluarga Ali mendengar berita ini yang sekarang berdomisili di Takalar. Ali baru saja menikah setahun lebih dan istrinya baru saja melahirkan. Buah hati hasil pernikahan mereka terpaksa yatim sebelum lahir. Saya membayangkan bagaimana perasaan istri sahabat saya itu. Baru saja bahagia karena telah dikaruniai momongan sirna sekejab berganti duka karena Ali suami tercinta, ayah dan adiknya berpulang dengan tiba-tiba dan tragis. Rencana untuk membina keluarga dan membesarkan anak pun pupus berganti duka yang teramat berat. Aakh..,saya jadi tak tahan membayangkan itu. Tak terasa mata ini jadi berkaca-kaca.

Saya masih teringat saat dikampus dulu bersama Ali. Sembari mengisap dalam-dalam rokok dan segelas kopi berdua di Mak Atang (salah satu langganan pedagang kaki lima dekat jurusan tempat kami biasa mengutang), kami sering berceloteh tentang “ketailasoan sosial”. Itu istilah yang kami gunakan untuk menggambarkan kondisi sosial yang carut-marut akibat salah urus dan sistim kampus yang tak pernah mau sejalan dengan dinamika pengkaderan lembaga mahasiswa.

Kami sengaja memelihara rambut gondrong sebagai bentuk perlawanan terhadap sistim di kampus. Sementara birokrat kampus mengindentikkan mahasiswa gondrong adalah mahasiswa yang tak beretika, nakal, bodoh dan malas. Kami selalu berapologi “nabi saja banyak yang gondrong, artinya mereka tak beretika,bodoh dan malas. Sementara para nabi hadir membawa misi perubahan sosial”. Hahahah…kami menemukan pembenaran secara teologi atas kegondrongan kami.

Ada mitos gondrong yang diberitahukan Ali kepada saya.

“Min, ada pantangan yang tak boleh dilanggar oleh mahasiswa gondrong”
“Apa itu?” tanyaku penasaran
Jawab Ali “mahasiswa gondrong tak boleh minum susu, tak boleh makan tahu tempe, tak boleh tidur dibawah jam 12 malam dan harus merokok . Kalau melanggar aturan, itu tandanya banci dan potong saja gondrongnya”.

Sementara saya sangat doyan susu coklat. Terpaksa untuk meminumnya saya akali dengan mencampunya dengan coffemix. Kami hanya tertawa terbahak dengan terus mengepulkan asap rokok sambil terus berceloteh dan menikmati susu coklat yang telah diakali itu…

Satu waktu ada kegiatan Himpunan di Takalar tepatnya di pabrik Gula takalar. Ali lalu menjanjikan saya akan mengajakku ke rumahnya yang tak jauh dari pabrik gula itu. Disela-sela kegiatan lagi istrahat, Ali hendak melunasi janjinya. Dengan menggunakan motor yang khusus Ali persiapkan untuk saya, ia mengajakku ke rumahnya untuk makan malam. Ali perkenalkan saya dengan orang tuanya yang ramah. Setelah mandi dan badan bugar kembali kami langsung ke dapur. Saat itu kami berdua duduk makan melantai. Bukannya tak ada kursi meja tapi itu menjadi kebiasaan kami yang menyenangkan saat makan.
Sambil melahap makan malam, Ali bercerita tentang pacarnya yang juga satu jurusan dengan kami. Namanya sebut saja “Bunga”. Gadis itu cantik, manis, senyumnya menarik,bodinya bohai semampai, rambutnya hitam lurus seperti bintang iklan shampoo. Saya kenal betul gadis itu karena selalu jadi rebutan dan buah bibir para jomblowan di kampus. Gadis itu angkatan dua ribu ****. Ia berkisah tentang sejauh mana hubungannya dengan gadis cantik itu. Akh..,saya tak perlu menceritakan kembali kisah itu disini. Itu perbicaraan rahasia dan khusus para lelaki. Tak boleh diketahui oleh perempuan.

Setelah usai makan malam, Ali melarang saya langsung kembali ke pabrik gula. “kita nyantai-nyatai dulu dikamar Min,ada yang mau ku kasih liatkan q” katanya. Pembicaraan kami seputar studi, kampus,lembaga mahasiswa dan tentu saja tema pembicaraan wajib adalah perempuan. Lagi asyik bercerita lalu terdengar suara dentuman music dangdut. Nampaknya itu tak jauh dari rumah Ali

“Ayo Min, kita kesana. Itu yang mau ku kasih liat q” ajaknya. Saya pun bergegas karena di dorong rasa penasaran. Setelah berpamitan pada orang tua Ali kami langsung menuju ke sumber suara musik tadi. Sampai disana..,wow..ada tontonan menarik para gadis-gadis dengan menggunakan pakaian serba minimalis sedang menari meliuk-liuk bak ular kobra sambil menyanyikan lagu dang dut pilihan diatas panggung. Goyangan tubuhnya mengikuti irama dang dut. Tarian mereka memancarkan nuasa erotis. Apalagi memperhatikan tubuhnya yang berkeringat dan menyusup jauh kedalam setiap lipatan dan lekukan tubuhnya yang putih. Kemana gerangan keringat itu bermuara?. Akh.., silahkan jawab sendiri.
Orang setempat menyebutnya ca’doleng-doleng

Ali punya perawakan yang sederhana,ceria dan enak diajak ngobrol. Secara fisik badannya kurus, rambutnya hitam lurus, kulitnya putih, wajahnya lumayan tampan dan badanya tak terlalu tinggi. Orang mengkategorikan dia dalam kelompok laki-laki tampan makanya dia punya banyak pacar dan setiap mengodo-odo perempuan pasti dapat.

******************
Itulah sekeping kenangan bersama Ali. Kenangan saat bermahasiswa di jurusan Budidaya Pertanian UNHAS. Setelah saya sarjana dan kembali ke Buton saya tak pernah bersua lagi dengan Ali hanya komunikasi via telpon dan facebook masih intens. Bahkan beberapa waktu lalu dia mengajak saya untuk bisnis benih jagung. Kebetulan Ali bekerja pada salah satu perusahaan benih.

Kendati Ali telah berpulang tapi ia hendak berpesan kepada kita lewat akhir hidupnya yang tragis. Kematian memang sebuah keniscayaan. Semua yang hidup pasti akan mati, semua tinggal soal waktu, tempat dan bagaimana cara kita mati. Kematian bukanlah masalah dan harus ditakuti karena ia adalah niscaya. Yang terpenting adalah bagamana cara kita mempersiapkan diri menghadapi kematian

Masih banyak lagi kepingan-kepingan memori yang tersimpan dan tak akan terlupakan dalam ingatan saya. Seorang sahabat dan sudah seperti saudara pernah berjuang dan menderita bersama. Sahabat yang tak hanya sekedar membenarkan kata-kataku tapi selalu berkata benar kepadaku. Aakh saya tak kuat lagi melanjtkan cerita ini. Mata ini semakin berkaca. Selamat tinggal saudaraku, semoga engkau mendapat tempat yang baik disana. Maafkan, karena ruang dan waktu, aku tak sempat melihat tubuhmu yang telah terdiam kaku. Namun Aku kan terus mengenangmu…,

Anda punya kenangan sama Ali..?

Baubau,Sultra
Kamis, 1 juli 2010
Pukul 09.30 pagi
Saat mata sedang berkaca-kaca..,

ORANG PALING BAIK ITU PERGI MENINGGALKAN SEJUTA KENANGAN



Pagi tadi pukul 08.45 saya lagi menonton berita televisi seputar goncangan gempa bu,I pagi ini yang melanda daerah Aceh berkekuatan 7 SR lebih. “..malang betul nasib daerah itu,menjadi langganan gempa..” gumamku sembari menelan sarapan yang telah ku lumat. Tiba-tiba…

Tidiiiit….tidiiiit…ada sms masuk ke Hpku dari Nomor yang tak ku save sebelumnya 081242616xxx, lalu ku baca…

“…Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun. Telah Berpulang ke rahmatullah Pak Norman Gosar (Agronomi,Pertanian). Meninggal di Bone selanjutnya disemayamkan di rumah orang tuanya di kalimporo, Balangbessi, Bulukumba. Semoga diampuni segala kesalahannya dan digandakan amalnya oleh Allah SWT, Amin..”

Aku tersentak..,”orang paling baik di dunia akhirnya meninggalkan kita” saya membatin. Dari kabar yang saya terima ia meninggal tiba-tiba dan bukan dalam kondisi sakit. Menurut sahabat saya Hasanuddin Puddo begitulah orang yang baik meninggalnya pun akan dimudahkan. Informasi ini lalu saya sebarkan ke teman-teman yang lain. Merekapun merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan.

Rasa-rasanya baru kemarin Pak Norman (begitu kami akrab menyapanya) setengah berbisik kepadaku

“Min, kalau saya tidak ada masalah ji, ini sekedar solidaritas dosen pertanian untuk sementara tidak mengajar dan ini masih bisa dibicarakan baik-baik..”.

Ia menyampaikan hal itu padaku saat gonjang-ganjing masalah penyambutan mahasiswa baru di Pertanian tahun 2005 dan merembet ke persoalan BEM Pertanian dengan pihak Fakultas. Dosen-dosen Pertanian mogok mengajar. Kami saat itu menahan dan mendesak Bapak Syawal Saloko selaku Dekan Pertanian saat itu untuk berdiskusi seputar keputusannya menskorsing beberapa mahasiswa Pertanian karena melaksanakan kegiatan pengkaderan lembaga mahasiswa. Gerakan kami itu di pelintir oleh media bahwa mahasiswa Pertanian UNHAS menyandera dekannya. Masalah ini sempat diangkat di media TV nasional dan menjadi isu nasional. Saat itu saya dianggap sebagai salah satu dalang dari gerakan itu dan sempat menjadi “incaran” pihak birokrasi. Namun kata-kata Pak Norman kepadaku saat itu begitu menenangkanku sampai saya berbisik dalam hati “ternyata masih ada yang melihat masalah ini lebih arif”.

Terlepas dari persoalan itu nampaknya sosok Bapak Norman Gosar adalah sosok yang dinilai orang baik, baik mahasiswa maupun dosen Jurusan Budidaya Pertanian Unhas. Pembawaannya begitu tenang, murah senyum dan selalu menyapa dengan ramah.

“bagaimana kabarnya, Min”

dengan senyum khasnya, itu sapaan yang selalu Ia lontarkan setiap kali bertemu denganku. Tak hanya itu, Ia juga selalu memberi semangat kepada kami mahasiswa sembari memberikan doa. Diam-diam saya selalu memperhatikannya, rupa-rupanya sikap ramah dan kekeluargaannya itu juga Ia lakukuan pada setiap orang. Jadi tak heran mahasiswa dan dosenpun senang terhadapnya. Selama saya menjadi mahasiswa di Jurusan Budidaya Pertanian Unhas, saya tak pernah mendapati beliau marah-marah ataupun bergunjing membicarakan orang lain. Kalaupun ada hal yang kurang ia sepakati maka Pak Norman akan menyampaikannya kepada kami dengan cara yang menyenangkan.

Ada metode mengajarnya yang menurutku sangat efektif dan menyenangkan dan saat saya diajar oleh beliau saya ingin sekali meniru metode itu bila menjadi dosen. Pak Norman selalu meminta kami mencari jurnal penelitian pertanian untuk sama-sama didiskusikan di kelas pada saat-saat tertentu.

Pak Norman selalu berpesan “Anda harus rajin-rajin mencari jurnal di internet karena jurnal penelitian biasanya informasinya lebih up to date di banding buku-buku. Frekuensi publikasi jurnal penelitian juga jauh lebih tinggi dan beragam dibandingkan buku-buku teks. Lagi pula kami selaku dosen tidak menjamin menguasai seluruh materi, kami juga punya kekurangan. Dengan mendiskusikan jurnal penelitian terbaru kita bisa saling berbagi pengetahuan dan informasi terbaru seputar pertanian…”.

Menurutku Pak Norman adalah sosok pendidik yang baik dan patut untuk di contoh. Kepada mahasiswa Ia tak hanya mengajarkan namun juga menenangkan,menyenangkan dan menyamankan proses belajar mengajar. Bahkan saya pernah di bentak oleh Dosen Fisiologi,Pak Nas karena saya menyebut Pak Norman sebagai orang paling baik di Jurusan

“…siapa bilang Pak Norman adalah orang paling baik di Jurusan, Pak Norman adalah orang paling baik di dunia..”, kata Pak Nas.

Selamat jalan Bapak Norman Gosar. Tubuhmu kini terbaring kaku terbalut kain kafan dengan aroma kapur barus. Liang lahat yang sempit dan gulita akan menjadi tempat persemayamanmu, namun semoga engaku adalah salah satu yang dilapangkan dan diterangi lahatnya. Namamu akan senantiasa terpatri dalam sanubari kami. Bagi kami yang pernah engkau didik, engakau bukan hanya sebagai sosok dosen namun juga sebagai kakak sekaligus orang tua kami. Apa yang engkau ajarkan akan menjadi amal jariyah dan segala kebaikan dan keramahanmu akan menjadi pembuka pintu rahmat di alam sana.

Pergilah dengan tenang Pak Norman Gosar, kami ikhlas melepasmu dan doa-doa kami akan selalu menyertaimu kendati isak tangis kami belum saja kering.

Segalanya berasal dari-Nya dan segalanya akan berpulang kepadaNya. Kami tak punya daya dan upaya untuk menundanya walau hanya sedetik. Kami hanya bisa berupaya mempersiapkan datangnya panggilanNya…

Bagaimana dengan Anda, kenangan apa yang anda miliki bersama Bapak Norman Gosar…???

Bau-Bau Sulawesi Tenggara, 7 April 2010 pukul 11.15 pagi
Dari muridmu yang menulis setengah isak.

03 September, 2009

FB..,SITUS TERLARANG DI KANTOR WALIKOTA BAU-BAU
















Masih ingat gonjang-ganjing seputar FB di kalangan masyarakat Indonesia beberapa waktu yang lalu? Sampai-sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut ribut memperdebatkan apakah situs FB (Facebook) sama haramnya dengan situs BF (Blue Film). Berbagai macam argumentasi pro dan kontra oleh para ulama bermunculan. Seperti halnya memperdebatkan kemaslahatan yang lain, ayat dan hadist di takwil dan di utak-atik untuk menemukan dalih atas argumentasi masing-masing. Tapi entah mengapa MUI pun akhirnya tak mengeluarkan fatwa apakah situs FB haram atau tidak. Dengan sikap itu kitapun pasti akan menilai para ulama tak melarang FB, atau FB masih punya manfaat kalaupun punya kemudharatan dapat dicegah dan diantisipasi dengan cara lain. Tak perlu pakai fatwa haram dari MUI.
Kalau di Iran situs FB diboikot karena FB digunakan sebagai media propaganda yang paling efektif oleh pihak oposisi. Lain lagi di Kantor Walikota Bau-Bau. Dari kabar yang saya dengar dan terpercaya, hari ini bagi para pengguna fasilitas hospot di kantor walikota Bau-Bau tidak dapat mengakses situs Facebook. Ketika alamat situs facebook di masukkan maka yang muncul adalah peringatan “ini adalah situs terlarang”. Alasan pemblokiran situs tersebut karena para pegawai sibuk bercengkrama dengan teman-temannya menggunakan fasilitas Facebook sehingga melupakan tugas pokoknya sebagai pegawai pemerintahan. Menurutku ini adalah fenomena lucu sekaligus memprihatikan. Kerena kinerja birokrasi bisa tidak berjalan dengan baik hanya karena pegawainya sibuk bermain Facebook. Beginilah kalau fasilitas tidak digunakan pada waktu dan tempat yang tepat. Bisa jadi fenomena ini juga terjadi di kantor-kantor birokrasi lainnya yang memiliki fasilitas hospot.
Dalam masyarakat industri seperti sekarang ini, kita tak dapat mencegah dan membendung perkembangan informasi dan tekhnologi. Laju perkembangan teknologi laksana gelombang ombak besar di pantai. Kita tak dapat menghalau gelombang ombak itu agar tak menghempas kita ke batu karang. Namun kita harus bersikap laksana seorang peselancar ulung yang bermain di atas gelombang ombak. Bahkan tak jarang memperagakan manuver gerakan tubuh yang indah dan mengagumkan. Gelombang ombak yang besar dapat membawa peselancar dengan selamat ke daratan. Tapi bila keseimbangan tubuhnya hilang maka gelombang ombak itu akan menggulung tubuh peselancar dan menghempaskannya ke batu karang yang cadas. Nampaknya pegawai pemerintahan itu tak mampu menjadi peselancar yang ulung.

---------------------------------------------------------
Satu penemuan baru tak hanya menyempurnakan penemuan sebelumnya tetapi juga menjadi pijakan baru untuk menemukan beberapa teknologi baru yang lebih inovatif. Teknologi tak hanya memanjakan manusia dan mengantikan fungsi-fungsi tenaga manusia dengan mesin, tetapi teknologi menjadikan penyempitan dan mengaburkan ruang dan waktu semesta seolah memasukkannya dalam kotak kecil menghasilkan dunia imajinasi baru. Bahkan terkadang kita sukar untuk membedakan antara ruang dan waktu semesta dengan dunia imajinasi kita. Fenomena ini secara gamblang dideskripsikan dalam film The Matriks yang diperankan oleh artis kawakan holywood Keanu Reeves.
Tidak menutup kemungkinan, dengan berbagai penemuan teknologi informasi mutakhir justru akan membunuh waktu itu sendiri. Fenomena ini sebenarnya telah lama dikemukakan oleh fisikawan perancis Alain Aspect pada tahun 1982. Aspect mengemukakan teorinya yang sangat mencengangkan bahwa partikel yang ada di otak ikan yang berada dalam air laut yang paling dalam dapat berkomunikasi langsung dengan partikel yang berada di planet paling jauh di luar angkasa tanpa diantarai oleh waktu. Aspect betul-betul membunuh teori Enstein yang melihat waktu dengan malu-malu dengan merelativkannya.
Menurut Aspect, alam semesta ini bekerja dengan logika hologram. Segala hal yang nampak hanyalah bayangan-bayangan dan pantulan-pantulan dari satu partikel yang di dalamnya terdapat memori, ruang dan waktu. Masa lalu, masa kini dan masa depan inklud dalam memori partikel itu bahkan waktu menjadi sirna sehingga masa lalu, masa kini dan masa depan hanyalah gambaran psikologis kita. Untuk menjelaskannya Aspect memberikan satu simulasi ikan dalam akuarium.
Ada sebuah akuarium yang berisi seekor ikan hias. Ikan tersebut dipantau oleh dua buah kamera yang ditelatakkan pada sisi kanan dan sisi kiri akuarium. Masing-masing kamera kemudian dihubungkan oleh televisi. Para penonton tidak pernah melihat realitas ikan yang sebenarnya. Pengetahuan mereka tentang ikan hanya mereka peroleh dari gambar televisi yang mereka tonton. Kamera disebelah kanan akuarium menangkap wajah ikan sehingga gambar yang muncul pada televisi yang terhubung pada kamera sisi kanan adalah gambar wajah ikan. Kamera sebelah kiri menangkap gambar ekor ikan sehingga gambar yang muncul pada televisi yang terhubung pada kamera sisi kiri adalah gambar ekor ikan. Dari sini para penonton akan beranggapan ada dua ekor relitas ikan karena gambar ikan dipantulkan dari sisi yang berbeda. Gerakan ikan akan semakin mencipkan kesan banyaknya ikan. Ketika ikan dalam akuarium bergerak maka ikan dalam televisi juga akan ikut bergerak tanpa ada waktu yang mengantarainya. Hal inilah yang oleh Alain Aspect disebut dengan Paradigma Holographic.
FB hanyalah salah satu fenomena kemutakhiran teknologi. FB seolah menjadikan ruang kita menjadi sempit sehingga kita dapat berkomunikasi bahkan bertatap langsung dengan orang yang berada di belahan bumi lain sekaligus. Tapi anehnya, ruang sempit itu tidak membuat kita merasa sesak dan terjepit di dalamnya kendati ada banyak teman yang kita temui sekaligus dalam ruang FB. Bahkan kita semakin memperbanyak teman kita dalam ruang yang seolah sempit itu. Tidak menutup kemungkinan pada masa yang akan datang, akan ditemukan teknologi yang mampu membuat kita berada di beberapa tempat sekaligus. Tak Tanya melalui monitor komputer. Namun suatu saat akan ada seorang manusia yang sedang sibuk menyelesaikan tugasnya di kantor, sambil berada di Hawai menikmati indahnya pantai di Hawai dan berada di benteng keraton Buton sekaligus.
Sadar atau tidak sadar manusia sedang berpindah dunia. Bukan sedang pindah ke Mars karena populasi manusia di bumi meningkat atau karena bumi sudah tercemar. Tetapi manusia saat ini sedang mempersiapkan sebuah dunia tempat tinggal baru dengan menembus batas-batas dimensi material. Manusia sedang menciptakan dunia baru dengan membunuh waktu. Entah kapan, mungkin tak lama lagi..

Bau-Bau, 3 september 2009

17 Agustus, 2009

REFLEKSI KEMERDEKAAN DAN PERAYAAN YANG PARADOKS




Merdeka..!, kata yang selalu saja kita dengar menjelang peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus 1945. Tidak saja oleh para serdadu dan tentara tetapi sampai pada anak-anak yang belia dengan entengnya meneriakkan kata Merdeka. Terpampang di koran-koran, televise, poster, baliho dan media-media lainnya. Sampai paruh pertama bulan Agustus kata merdeka menjadi kata yang sering kita dengar atau ucapkan.
Tak hanya senapan dan bambu runcing, pada masa perjuangan kata merdeka juga menjadi senjata yang paling ampuh. Dengan teriakan merdeka mampu membangkitkan semangat perjuangan untuk melawan dan mengusir kaum penjajah dari tanah pertiwi. Kata merdeka mampu membangkitkan solidaritas, keberanian, maju pantang mundur para pejuang di medan perang. Tak hanya di medan perang, kata merdeka selalu diucapkan pada awal pertemuan dan akhir perjumpaan. Kata merdeka menjadi kata yang tepat untuk mewakili segala bentuk perjuangan, ekspektasi, tujuan dan cita-cita seluruh rakyat saat itu. Dengan kata merdeka merekapun lalu sama-sama mengerti bahwa masih ada yang harus terus diperjuangkan.
Pasca proklamasi 17 Agustus 1945 oleh The Founding Father Soekarno-Hatta, bangsa Indonesia secara fisik terbebas dari penjajahan Negara kolonial. Meskipun masih ada upaya yang dilakukan oleh Negara kolonial untuk menjajah kembali bangsa Indonesia. Hal ini terbukti dengan adanya dua kali agresi yang dilakukan oleh Belanda pasca 17 Agustus 1945 dan berbagai insiden lainnya. Kata merdeka menjelma menjadi benteng yang paling kokoh dalam setiap dada rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.
Perjuangan ternyata memang belum berakhir. Justru penjajahan saat ini jauh lebih dahsyat. Karena dahsyatnya itu terkadang kita tidak menyadari bahwa kita sedang terjajah, terjadi dimana-mana dan kapan saja. Bila pada masa sebelum 17 Agustus 1945 perjajahan terjadi secara fisik dan kontak senjata maka saat ini perjajahan terjadi melalui ideologisasi. Bila pada masa sebelum 17 Agustus 1945 kaum penjajah berasal dari Negara luar maka saat ini penjajahan juga dilakukan oleh rakyat Indonesia terhadap rakyat Indonesia lainnya.
Bila kita mengacu pada analisis Antonio Gramsci bahwa proses kekuasaan atau upaya untuk menguasai dapat dilakukan dengan dua cara yakni dominasi dan hegemoni. Dominasi adalah upaya penguasaan yang dilakukan secara fisik yang dijalankan oleh aparatur represif dengan mengatasnamakan keamanan dan stabilitas. Hegemoni adalah upaya penguasaan terhadap kesadaran dan paradigma berfikir yang dilakukan secara tersistematis. Pengusaan secara hegemoni justru lebih berbahaya karena orang yang dikuasai terkadang tidak menyadari kalau ia sementara terjajah. Bahkan terkadang ia menikmati penjajahan itu.
Hegemonisasi dilakukan melalui proses ideologisasi yang terstruktur dan tersististematis. Hegemoni bergerak secara halus dan lincah menguasai kesadaran kita lalu membunuhnya dan menggantinya dengan kesadaran yang baru. Secara kognitif pada akhirnya akan membentuk wajah kebenaran yang baru. Dan tentu saja akan berpengaruh pada sisi afektif dan psikomotorik. Lalu akan terjadi ketaatan dan kepatuhan terhadap kebenaran baru itu. Maka terjadilah yang namanya ketergantungan.
Nah, dengan cara pandang inilah Gramsci mendiagnosis proses penguasaan Negara maju terhadap Negara dunia ketiga. Idiologisasi dilakukan melalui rasionalisasi dan regulasi ekonomi politik. Rasionalisasi dan regulasi ini kemudian yang mengatur pola hubungan antar Negara. Eksploitasipun terjadi.
Para penjajah dari luar bersimbiosis mutualisme dengan penjajah dari dari bangsa kita sendiri untuk mengeksploitasi semua sumberdaya bangsa ini dengan mengendalikan struktur kekuasaan politik. Tanpa kita sadari potensi alam seperti tambang, hutan dan laut telah dikuasai oleh pihak asing dan kelompok penguasa negeri ini. Bahkan ruang udara telah dimonopoli melalui jalur penerbangan dan gelombang telekomunikasi. Akibatnya ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan dan pengangguran masih saja terjadi di negeri ini. Menjadi sesuatu yang aneh tingkat kemiskinan dan pengangguran di Indonesia sangat tinggi sementara potensi alamnya melimpah ruah. Makanya jangan heran bila diberbagai daerah masih terjadi konflik sosial. Konflik yang terjadi di Papua, Aceh, Maluku, Poso dan berbagai daerah lainnya, apapun isunya selalu saja disebabkan oleh ketimpangan dan ketidakadilan.
Di Negara Indonesia kesejahteraan dan keadilan hanyalah menjadi mimpi indah bagi rakyat Indonesia. Cerita kesejahteraan dan keadilan hanyalah menjadi dongeng sebelum tidur yang meninabobokkan rakyat Indonesia. Kesejahteraan dan keadilan hanya menjadi janji dan instrument politik penguasa untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaannya. Janji kesejahteraan dan keadilan diobral bahkan di bagi gratis melalui pidato, kampanye, selebaran, iklan televisi dan radio menjelang momentum politik. Lalu dimanakah kesejahteraan dan keadilan itu..? entah berada dimana.
Memang secara substantiv negeri ini belumlah merdeka. Kendati sejak 64 tahun yang lalu Soekarno-Hatta telah memproklamerkannya. Bahkan selalu saja diulang-ulang dibacakan setiap tanggal 17 Agustus. Proklamasi Soekarno-Hatta tidak membawa kita pada dunia kemerdekaan tapi Soekarno-Hatta hanya mengantarkan bangsa ini di depan pintu gerbang kemerdekaan dan sampai hari ini kita belum masuk dalam rumah kemerdekaan. Kalau anda tidak percaya, baca saja pembukaan UUD 1945. Disitu tertulis dengan gamblang.
Saat ini bangsa Indonesia sedang merayakan euphoria kemerdekaan memperingati proklamasi 17 Agustus 1945. Kata merdeka masih saja diucapkan dan diteriakkan. Bendera merah putih tetap saja berkibar. Tak hanya di tiang-tiang bendera, namun merah putih juga berjubel di pagar-pagar rumah penduduk, tembok-tembok, teras-teras kantor, di pasar, di pelabuhan dan tempat umum lainnya. Pesta dan lomba perayaan masih saja berlangsung. Ada lomba lari karung, lomba panjat pinang, lomba pukul bantal, lomba karaoke, lomba joged dan berbagai lomba yang menyuguhkan suasana bahagia, meriah dan hadiah.
Tapi sayangnya, kemiskinan dan ketidakadilan masih saja ada dimana-mana. Orang-orang miskin karena ketidakadilan itu menggunakan kaos bergambar bendera merah-putih hasil pembagian panitia perayaan untuk pergi mengemis dan mengais sampah. Orang-orang miskin karena ketidakadilan itu beramai-ramai mengikuti lomba perayaan 17 Agustus untuk mengharapkan hadiah yang tidak seberapa agar hadiahnya itu ia gunakan untuk mempertahankan hidupnya yang miskin.
Orang-orang miskin karena ketidakadilan itu dipaksa mengakui kemerdekaan yang tak pernah mereka raih melalui perayaan yang semu dan gelamour. Tawa pada perayaan sejenak melupakan penderitaan mereka. Lalu kembali bergumul dan berjuang dalam kemiskinan merebut kemerdekaan. Kalaupun mereka mati, mereka tak layak menyandang pahlawan kemerdekaan dan tak layak mayatnya dibalut berdera merah-putih.
Perayaan pesta kemerdekaan ditengah kemiskinan dan ketidakadilan karena ketidakmerdekaan. Sungguh sebuah tontonan yang paradoks dalam Negara yang paradoks

Pukul 08.59, Tamalanrea, Makssar
17 Agustus 2009.

02 Juli, 2009

Akhirnya Saya Punya Facebook..!









“..ah.,ketinggalan jaman kamu, sekarang bukan masanya FS..,Niih maen Facebook dong..”
Demikian kata temanku beberapa bulan yang lalu saat saya lagi on line membaca komentar di FS ku. Dengan sedikit ciut wajahku kuhadapkan ke laptopnya sembari meminta penjelasan tetang seluk beluk FB (demikian orang menyebut Facebook)
“..menurutku FS tidak ketinggalan jaman. Ia punya segmen pemakai tersendiri yang setia..” demikian kata temanku yang satunya yang juga lagi on line. Sayapun dengan cepat membenarkan kata temanku itu dengan perasaan lega. Bukan berarti saya tidak punya alasan untuk membenarkannya.

Dengan sedikit penjelasan dari teman tadi tentang bagaimana aplikasi FB, menurutku FS masih punya kelebihan. FS memiliki tampilan lay out yang lebih menarik dan dinamis karena dapat di desain sedemikian rupa bila dibandingkan dengan dengan FB. Hanya saja FB lebih simple dan mudah dalam membangun jaringan pertemanan. Pengguna FB dapat dengan mudahnya membangun komunikasi secara langsung dengan beberapa teman dalam satu waktu, menuliskan keluh kesahnya dan curhat dengan teman FBnya. Atau teman saya pernah bilang “..FB bisa chating dengan beberapa teman sekaligus..”. Ah, entahlah saya bukan orang yang terlalu mahir dalam hal-hal seperti itu.
Terlepas dari itu semua, bagiku FS dan FB adalah budaya pop yang tidak terlepas dari permainan pasar. Ini yang menjadi alasan mengapa saya merasa tidak terlalu tertarik untuk membuat FB. Bahkan FB pernah menjadi satu fasilitas internet yang paling banyak digunakan oleh orang diseluruh dunia. Bahkan dari kabar yang pernah saya dengar, kekacauan yang sedang terjadi saat ini di Iran pasca terpilihnya kembali Ahmadinejad sebagai presiden Iran, FB digunakan sebagai media propaganda yang paling efektif oleh pihak oposisi sehingga pemerintah Iran memboikot FB agar FB tidak dapat digunakan lagi di Iran.

Bahkan di Indonesia FB sempat menjadi gonjang-ganjing. Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdebat terkait perlunya fatwa haram terhadap penggunaan FB mengingat manfaat dan mudaratnya yang walaupun pada akhirnya fatwa haram itu tidak dikeluarkan. Menurutku perdebatan MUI menyangkut FB itu tidak berkualitas. Masih banyak persolan keummatan lain yang lebih urgen untuk diperhatikan. Lebih baik MUI menfatwakan bahwa mengirim Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri adalah haram. Mengingat banyaknya kasus tindak kekerasan yang dialami para TKI dan tidak terselesaikan oleh hukum.

Namun akhirnya sejak 3 hari yang lalu saya punya Facebook. Sekali lagi FS, FB atau apalah namanya, hanyalah sekedar budaya pop. Ada scenario pasar yang bermain dibelakangnya. Tanpa sadar, sementara asik-asiknya kita bermain FB kita sementara menjadi lokomotif untuk mempercepat mobilisasi dan akumulasi capital. Kita sedang mempercepat pergeseran peradaban pada bentuk yang lain yang entah peradaban itu mengarah kemana kita tidak mengetahuinya. Anehnya kita cenderung latah pada sesuatu yang kita tidak pahami substansinya. Kita larut dalam dalam suatu scenario besar yang namun bukan kita yang membuat scenario itu apa lagi hendak menjadi sutradaranya. Ibarat papan catur, kita hanyalah pion yang terus maju tanpa punya pilihan untuk tidak melangkah, mundur atau melangkah kesamping.
Tak ada cara lain, pencerdasan dan pencerahan harus selalu dilakukan. Biar bangsa ini punya identitas sendiri dan tahu hendak melangkah kemana karena menyadari tujuan dan cita-cita serta mimpi yang sama tentang peradaban.

Tamalanrea, Makassar
Kamis, 2 Juli 2009 pukul 00:01 WITA

Akhirnya Sarjana Juga…!

















Petualanganku dikampus akhirnya usai sudah. Bagiku masa bermahasiswa adalah masa yang luar biasa dan sangat menentukan proses hidupku selanjutnya. Masa yang penuh tantangan untuk mencari jati diri. Sebelum saya masuk di UNHAS tahun 2002, saya kuliah di universitas swasta selama setahun di kampungku, Kota Bau-Bau yang sangat saya cintai. Namun kota itu harus saya tinggal karena sejak dari awal semangat petualanganku menuntunku untuk tidak serumah dengan orang tua. Biar lebih mandiri dan melatih diri untuk lebih dewasa. Demikian saya selalu membatin. Berangkatlah saya ke Makassar, kota Seribu Daeng.

Sejak awal, sebelum saya menginjakkan kaki di Makassar yang terbayang bahwa Makassar adalah kota yang keras. Apa lagi mendengar cerita mahasiswa sekampungku yang lebih dahulu menantang Makassar. Saya membayangkan potret kehidupan yang keras, jauh dari keluarga dan kerabat. Jangan-jangan setiba di Makassar saya kehabisan duit, jangan-jangan saya sakit keras siapa yang merawat, jangan-jangan saya mendapat musibah, jangan-jangan….jangan-jangan….seribu ketakutan mengepul diatas kepalaku. Memang sich banyak mahasiswa sekampungku yang kuliah di Makassar yang akhirnya gagal menyelesaikan studinya karena berbagai hal. Saya tidak gentar, itu tidak mengurungkan niatku untuk menaklukkan Makassar.

Akhirnya saya diterima kuliah di UNHAS, tepatnya fakultas Pertanian jurusan Budidaya pertanian program studi Agronomi. Masuk di UNHAS melalui SPMB tahun 2002. Mengambil formulir IPC menawar tiga jurusan; Teknik Geologi, Agronomi dan Antropologi. Saat itu saya berfikir lulus di jurusan mana saja asal di UNHAS dan tidak menganggur. Senangku luar biasa begitu saya lulus pada pilihan kedua yaitu Agronomi. Sejarah kemahasiswaanku di mulai dari sini.
Selama kuliah di UNHAS saya aktif diberbagai kegiatan lembaga kemahasiswaan baik ekstra maupun intra kampus. Mulai dari pengurus tingkat himpunan, Presiden BEM Fakultas, Pengurus BEM Universitas sampai koordinator badan-badan khusus. Bahkan sempat “buron” gara-gara berkali-kali terlibat aksi demonstrasi. Aakh..,saya nda mau cerita pengalaman itu. Ada pengalaman lucu namun sedikit tragis bersama teman sekampungku. Begini ceritanya..

Ketika semester dua, saya tinggal di kost-kostan – mahasiswa makassar lebih enak menyebutnya pondokan- di Jalan Inspeksi PAM dekat PLTU Tello. Satu kali naik pete-pete menuju kampus UNHAS. Kalau tidak salah sewa pete-pete saat itu Rp. 1.500. Kiriman beasiswa saya dari kampung saat itu paling banyak Rp. 300.000,- sementara nilai kiriman beasiswa sebanyak itu sangat jarang saya dapatkan. Fluktuasinya berkisar Rp. 200.000 sampai 250.000 dan setiap bulannya sepertiga dari kiriman itu pertama kali saya harus membelanjakan buku. Itu sudah tekadku. Sisanya dipakai untuk mempertahankan hidup.

Di pondokan itu saya tinggal bersama tiga orang teman saya yang juga dari Buton. Lukman teman sekelasku ketika SMA kuliah di ekonomi belakangan pindah ke jurusan Sastra Inggris UNHAS namun akhirnya studinya tidak selesai karena sakit, Iping biasa kita menyapanya Jung Jai Ping juniorku ketika SMA kuliah di Jurusan Elektro UNHAS dan Wawan orang Buton Utara kuliah di jurusan Pertambangan UVRI yang memutuskan merantau ke tempat lain sebelum menyelesaikan studinya. Pemilik pondokan adalah seorang Haji dari Sengkang juga tinggal disitu bersama anak istrinya di lantai 2. Ia sangat fanatik dengan Muhammadiyah nya. Menurutku haji itu pikirannya sangat konservatif namun jujur saja ia berkali-kali menyelamatkan kami.

Biasanya, untuk penghematan kami masak bersama. Patungan beli beras kemudian masak pakai rice cooker nya Lukman. Terus patungan pula beli lauk. Menu andalan adalah indomie telur. Tapi makan siang saat itu agak istimewa. Indomie telur dicampur sayur bayam yang dibeli wawan tadi pagi ketika pagandeng sayur (penjual keliling yang mengendarai sepeda atau motor) lewat depan pondokan. Seperti biasa makan siang telat dua jam setelah perut keroncongan. Nasi sudah siap dari tadi. Sudah disendok di piring masing-masing pula. Kami berempat duduk jongkok mengelilingi kompor usang berkarat yang sedang menyala. Diatasnya terdapat panci indomie telur plus bayam. Dengan penuh hasrat yang meluap-luap dan liur yang hampir mentes kami menatap isi panci yang setengah matang.

Si Iping memegang kendali sendok besar yang digunakan untuk mengaduk. Sekaligus Ia merasa punya kuasa untuk sewaktu-waktu mencicipi kuah indomie telur plus bayam itu. Ia melakukannya berkali-kali dihadapan kami dan kami menganggap itu adalah tindakan kriminal. Betapa tidak, kami semua berfikir betapa teganya Si Iping mencicipi kuahnya berkali-kali di hadapan kami yang kelaparan dengan alasan memastikan rasanya sudah pas atau belum. Lukman reaktif melihat kelakuan Iping. Sambil mengambil alih sendok besar dari tangan Iping Lukman kemudian bertanya

“..sudah pas blum..?” Si Lukman juga melakukan tindakan kriminal yang sama dihadapan kami. Tiba-tiba sendok besar seolah menjadi arena perebutan kekuasaan dan otoritas untuk mencicipi. Saya pun terpancing. Dengan cepat saya menyambar sendok besar dari tangan Lukman setelah saya melihat ekspresi Lukman yang begitu menikmati kuah indoomie telur plus bayam. Saya juga melakukan tindakan kriminal itu. Tinggal Si Wawan yang tambah ngiler dan tidak sabaran ingin mencoba setelah melihat ekspresi kami. Si Wawan tidak merebut sendok besar di tanganku namun mencelupkan ujung jarinya kedalam kuah lalu dijilatnya. Panasnya kuah tidak terasa oleh Si Wawan lantaran hasratnya itu. Wawan lalu berkata “..sudah masak, ayo angkat..!”

Iping merasa berkompeten untuk mengangkat panci dari atas kompor yang menyala. Tiba-tiba kami semua serentak bersuara “..Aaaakh..”. Dasar Si Iping lantaran hasrat dan kecerobohannya ia menumpahkan semua indomie telur plus bayam yang nikmat itu di atas lantai yang hitam karena jarang dibersihkan. Kami semua kesal dan menyesal. Masing-masing memegang piring berisi nasi dengan ekspresi sedih. Kami saling menatap tanpa suara sembari sesekali melihat bekas tumpahan indomie telur plus bayam itu di atas lantai. Lalu kami tiba-tiba serentak sama-sama tertawa. Menertawai sikap masing-masing sambil menikmati makan siang hanya nasi. Lalu Si Wawan berkata “..begitumi memang kalau tidak sabaran q, makanan belum waktunya di makan semua sudah pada mau mencicipi..”. kami tertawa terbahak-bahak.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Ada kisah kami yang lain tapi kali ini Wawan tidak ada, sudah merantau ke daerah lain. Kami hanya bertiga saya, Lukman dan Iping. Hari itu sudah tanggal tua. Kami bertiga sudah tidak punya duit lagi untuk beli makanan. Yang tersisa Lukman masih punya duit Rp 5.000,-. Sementara kucuran beasiswa dari kampung belum ada tanda-tanda untuk cair. Kami pun tak punya Handphone untuk SMS ataupun menelpon. Kami berdiskusi mau diapakan duit Rp 5.000 itu. Karena kami prediksi seminggu lagi bahkan lebih kiriman baru datang.

Diakhir diskusi mentok pada dua opsi. Pertama; duit digunakan untuk beli beras karena bisa untuk 2 liter beras kemudian digunakan untuk mempertahankan hidup sampai kucuran beasiswa dari kampung datang. Kedua; duit Rp 5.000 itu digunakan untuk menelpon ke kampung dan mengabarkan kami sudah tak punya duit lagi dan kucuran beasiswa dari kampung dicairkan lebih awal. Akhirnya keputasan jatuh pada opsi pertama karena opsi kedua resikonya lebih besar. Duit Rp 5.000 cepat raib untuk interlokal setelah itu kami pasti tak punya duit untuk beli makanan. Dan belum tentu besoknya kiriman bakalan datang. Iping bergegas beli beras di Warung sebelah. Dia sangat rajin dan suka menjadi utusan kami ke warung karena pemilik warung itu punya anak gadis yang cantik, putih, bodinya semampai, padat dan seksi. Cewek itu selalu ramah melayani kami belanja. Terus terang saya juga tertarik, apalagi Si Lukman tak perlu dibilang. Selalu saja alasan pergi beli rokok walaupun rokoknya masih ada sembari meminta korek api biar bisa diajak cerita lebih lama.

Duit Rp 5.000 cukup untuk ditukar dengan beras dua liter. Hanya dengan berbekal beras dua liter kami bertiga siap menanti kucuran beasiswa dari kampung. Kamipun sudah membayangkan hasil masakan pasti lain dari biasanya. Bukan bubur apalagi nasi. Bayangkan saja, tiga gengam beras sekali makan untuk kami bertiga. Biar cukup, beras yang tiga genggam itu di masak pakai air dua kali lipat jumlah air untuk buat bubur. Bisa dibayangkan biji beras setelah dimasaknya jadinya seperti apa. Untung saja Lukman punya rice cooker sehingga kami tak perlu beli minyak tanah.
Setelah makan kami kekenyangan, kekenyangan bukan karena nasi atau bubur tapi karena air. Dua jam kemudian pasti terkencing-kencing karena perut kelebihan air setelah itu rasa lapar akan melilit. Untuk menghilangkan rasa lapar kami isi dengan cerita lucu ataupun tidur sampai waktu makan selanjutnya tiba. Hal ini kami lakukan lamanya seminggu lebih. Betul-betul kami merasakan krisis ekonomi yang sebetul-betulnya krisis namun kami menikmatinya. Masa-masa yang tak bisa dilupakan.

Akhirnya setelah tujuh tahun bergelut di dunia kampus dengan penuh dinamikanya, pertanyaan orang tuaku terjawab juga. Tanggal 25 Juni yang lalu kedua orang tua saya hadir ke baruga AP Pettarani UNHAS untuk menyaksikan wisudaku. Dari lantai 2 mamaku menyaksikan saya menerima map merah dari rektor. Mamaku menangis terharu, dalam hatinya Ia membatin “..akhirnya anakku sarjana juga..”. Sementara Pembantu Rektor I, II dan III heran saat saya salami. Mereka kaget melihat saya baru mengenakan Toga, jubah kebesaran kaum intelektual. Bahkan saat saya menerima map merah dari rektor, beliau berkata “..saya kira kamu sudah lama selesai, Min..”. saya cuma tersenyum sembari menjabat tangannya, tak menghiraukan sorotan cahaya blits kamera bertubi-tubi mengabadikan kami.

Setelah acara wisuda selasai, di luar gedung teman saya Jeto sudah menunggu. Dia memberikan selamat dan kami foto bersama. Saya sadar, saat itu orang tua saya sangat bahagia saya wisuda. Bahkan Mamaku berkali-kali memintaku untuk mengusahan agar kami berempat bisa berfoto bersama rektor. Tapi itu tidak mungkin. Apalagi Bapakku, senangnya luar biasa. Berkali-kali ia meminta saya yang masih memakai toga untuk berfoto dengannya menggunakan kamera digital yang saya bawa. Bahkan Bapakku langsung membawa pulang CD file hasil pemotretan di studio dadakan yang banyak disekitar baruga UNHAS saat wisuda berlangsung. Katanya mau diprint dengan ukuran besar, dibingkai lalu di pajang di rumah. Saya sangat bahagia bercampur haru melihat orang tuaku yang sangat berbahagia. Bagiku, saat saya wisuda bukan gelar sarjana yang kusandang namun kedua orang tuakulah yang membuatnya jadi istimewa. Saat itu, dalam hati kecilku membatin “Bapak..,Mama..,saya masih punya hutang pada kalian berdua walaupun kalian berdua tak pernah menganggap itu hutang apalagi sampai menagihnya..”.

sajakku..








Kerinduan

Oh wajah lembut yang begitu aku kasihi
Kemarilah biar ku kecup keningmu
Lalu kuhirup dalam-dalam hangatnya nafasmu
Semalam saja…

Oh wajah yang parasnya indah
Kemarilah biar kusentuh pipimu dan kubelai rambutmu
Sembari membacakan sajakku yang purba
Sekejap saja…

Oh wajah yang begitu rupawan
Jangan engkau berpaling,kumohon..!
Karena aku belum pernah melihat parasmu
Kerinduanku laksana mentari merindukan bulan…

Dalam kesepian malam..,
Tamanalnrea, Makassar
Kamis, 2 Juli 2009 pukul 00.26 WITA.